PRAKTEK PEMBELAJARAN PMRI DI SMP NEGERI 27 PALEMBANG

Pendahuluan
Observasi ini saya laksanakan sebagai tugas mata kuliah Pendidikan matematika Realistik yang di ajarkan oleh Prof. Dr. Zulkardi M.I.Komp.M.Sc. Kami diminta untuk membuat lesson (Perangkat Pembelajaran PMRI) dan di praktekkan di sebuah sekolah yang kami kunjungi. Kebetulan saya melakukannya di SMP tempat saya mengajar Yaitu di SMPN 27 Palembang di jalan Rejung Sako Kelurahan Sako Palembang.
Materi yang saya pilih yaitu “ Perbandingan”. Materi ini di ajarkan pada kelas VII, semester 1. Mengapa saya mengambil materi ini? Dari beberapa guru matematika yang mengajar di kelas VII yang saya tanyai di sekolah tempat saya mengajar, mereka mengatakan anak-anak tersebut mengalami kesulitan apabila ketemu soal yang menyangkut konsep perbandingan. Begitupun hal yang saya temui di kelas IX saat membahas soal-soal yang menyangkut konsep perbandingan mereka mengalami kesulitan. Pada materi ini siswa masih kesulitan memahami konsepnya karena selama ini pembelajaran yang dilakukan masih memakai gaya lama. Menurut Soejadi (2000:1) Pembelajaran matematika di sekolah masih mengikuti kebiasaan dengan urutan diterangkan di berikan contoh dan diberikan latihan
Itulah sebabnya saya tertarik untuk memilih materi ini yang diajarkan dengan menggunakan pendekatan PMRI, dimana anak-anak diajak belajar dengan menggunakan benda yang konkret.. Ternyata anak-anak tersebut sangat antusias dan senang sekali sebab mereka tidak langsung disuguhi dengan angka-angka dan rumus-rumus yang langsung jadi. Semua mereka dapatkan sendiri melalui proses pengukuran untuk membuat pola baju.
Sebelum melaksanakan pembelajaran ini saya berdiskusi dulu dengan kawan yang kebetulan memang merangkap penjahit. Saya bertanya bagaimana cara membuat pola baju yang benar, ternyata kalau memang ingin membuat pola baju yang sebenarnya tidak semudah yang kita bayangkan, banyak sekali aturan-aturannya. Tapi untuk tugas mata kuliah ini karena waktunya hanya satu kali pertemuan saya ambil yang sederhana saja. Tapi seandainya pengajaran ini kelak dipraktekkan dengan sebenarnya , mungkin banyak sekali manfaatnya bagi siswa, selain mereka belajar matematika menyenangkan, ingatan mereka tentang konsep perbandingan ini juga akan bertahan lama sebab biasanya apabila pembelajaran itu dikaitkan dengan benda koonkret ia akan sangat melekat di ingatan siswa dan itu akan bertahan lama. Sealin itu akan menjadi skill bagi mereka sebab secara tidak langsung mereka juga akan memperoleh cara membuat pola baju, memang untuk tahap awal sifatnya masih sederhana tapi bisa saja mereka mengembangkan sendiri menjadi sesuatu yang lebih.
Proses Pembelajaran
1. Kegiatan Awal
♣ Sebelum proses pembelajaran siswa diminta menyiapkan :
- Koran
- Gunting
- Skala meteran
- Pensil
- mistar ( yang pada pertemuan sebelumnya memang sudah diberitahu)
♣ Guru menunjukkan kepada siswa baju seragam siswa
♣ Diberikan 4 (empat) buah foto yaitu:
- orang lagi menjahit
- anak berpakaian baju sekolah
- orang lagi mengukur
- pola baju
Dari keempat foto tersebut siswa diminta untuk mengurutkannya, dan
menceritakan kejadian di atas.
2. Kegiatan Inti
♣ Siswa diminta untuk menggambar desain Baju sesuai dengan ide mereka masing-masing


(Contoh-contoh pola baju yang digambar siswa)
♣ Kemudian Siswa dibentuk dalam beberapa kelompok di mana setiap kelompok terdiri
dari 4 orang Siswa.
♣ Untuk tiap kelompok siswa masing-masing melakukan pengukuran pada salah
seorang siswa yang berada pada kelompoknya dengan instruksi sebagai berikut
a. Punggung,
diukur dari tulang leher belakang yang menonjol kebawah sampai dibawah ban pinggang.
b. lebar bahu,
diukur dari lekuk leher di bahu atau bahu yang paling tinggi sampai titik bahu yang terendah atau paling ujung.
c. lebar punggung
Diukur dr pertengahan kedua pangkal lengan bagian belakang dr kiri – kanan
d. Panjang lengan pendek
diukur dari puncak lengan ke bawah sampai kira-kira 3 cm di atas siku.

♣ Siswa diminta mencatatlah hasilnya dan mengisi titik-titik di bawah ini !
- Ukuran punggung = …… cm
- ukuran lebar bahu = ……..cm
- ukuran lebar punggung =……cm
- Panjang lengan =……. cm
♣ Dengan menggunakan ukuran tersebut siswa diminta untuk membuat polanya pada
kertas koran

(Kegiatan menggambar pola baju sebenarnya)
♣ Pola baju yang di buat tadi di buat lagi gambarnya dalam ukuran kecil kemudian
diukur panjang punggung, lebar bahu, lebar punggung, dan panjang lengannya
dengan menggunakan mistar
♣ Membandingkan ukuran pada pola di gambar dengan hasil ukuran yang sebenarnya
dengan mengisi titik-titik di bawah ini !
- Ukuran punggung = …… cm : …… cm = 1 : ….
- ukuran lebar bahu = …… cm : …… cm = ….. : ….
- ukuran lebar punggung =……cm : ….cm = …. : ….
- Panjang lengan = ….. cm : … = ….. cm : …. : ….
♣ Lalu masing-masing kelompok menyimpulkan hasilnya dan menjelaskannya (dari
kegiatan ini akan diperoleh konsep apa itu Skala)
♣ Diberikan 2 contoh gambar baju seragam sekolah dengan ukuran yang berbeda
♣ Diminta membandingkan gambar tersebut
- Bandingkan ukuran panjang lengan kiri nya =
- Bandingkan ukuran lebar baju =
- Hubungkan a) dan b) maka akan didapat
Lengan baju 1 = lebar baju 1
Lengan baju 2 lebar baju 2
♣ Yang akhirnya diperoleh bentuk umum perbandingan
3. Penutup
♣ Siswa diminta mempresentasikan hasil kelompok mereka
♣ Guru memberikan PR
Evaluasi
- Diketahui skala suatu peta 1: 2.000.000. Tentukan jarak pada peta, jika jarak sebenarnya 60 km !
- Diketahui jarak sebenarnya kota P ke kota Q adalah 12 km. Tentukan skalanya jika jarak pada peta 12 cm!
- Sebuah model mobil dibuat dengan panjang 8 cm. Jika panjang mobil sebenarnya 3,2 m, tentukan skala model tersebut!
- Tinggi seorang guru adalah 1,76 m. Dibuat gambarnya setinggi 3cm. Hitunglah skala gambar guru tersebut!
- Perhatikan gambar sebuah rumah sederhana (tampak depan) berikut
Pada gambar tersebut, 1 cm mewakili 4 m. Ukurlah panjang dan tinggi rumah bagian tertinggi pada gambar!
a. Berapa skala gambar rumah tersebut?
b.Hitunglah panjang dan tinggi rumah sesungguhnya!
6. Sebuah pesawat udara, panjang badan pesawat 36 m dan panjang sayapnya 40 m..
Pada suatu model berskala, panjkang sayapnya 50 cm. Berapa panjang badan model pesawat tersebut?
Keterkaitan Pembelajaran pada materi Perbandingan ini dengan kelima karakteristik PMRI, yaitu:
1. Menggunakan konteks
Konteks yang digunakan adalah baju seragam sekolah dan pola baju ukuran sebenarnya.. Penggunaan konteks tersebut bertujuan agar proses berfikir siswa terjadi sehingga dengan menggunakan baju seragam yang dipakainya dia dapat melakukan proses pengukuran dengan benar dan memperoleh angka-angka yang tepat untuk membuat pola baju.
2. Menggunakan model
Pola baju yang digambar dengan ukuran kecil adalah merupakan model. Dengan menggunakan model pola baju siswa dapat melakukan perbandingan dari angka-angka yang mereka peroleh sendiri dari hasil pengukuran yang mereka lakukan terhadap salah satu teman mereka dalam satu kelompok.
3. Menggunakan kontribusi siswa
Kontribusi yang besar pada proses belajar mengajar diharapkan dari kontribusi siswa sendiri yang mengarahkan mereka dari metode informal mereka ke arah yang lebih formal. Siswa diberi kesempatan untuk bekerja, berpikir dan mengkomunikasikan pendapat mereka dan guru hanya bertindak sebagai pembimbing (fasilitator), moderator dan evaluator.
4. Interaktivitas
Guru sebagai fasilitator memberikan arahan/petunjuk untuk mengatur mereka sehingga siswa dapat berberinteraksi antara sesama siswa, siswa dengan guru, baik dalam diskusi, kerja sama dan evaluasi.
5. Terintegrasi dengan topik pembelajaran lainnya.
Dengan melakukan pengukuran, siswa dapat membuat pola baju, dan membuat gambar tak sebenarnya pada kertas gambar. Ini sangat menarik bagi siswa sebab akan berkembang dengan membuat model(desain) baju dan hal ini berhubungan dengan pelajaran keterampilan.
Keterkaitan pembelajaran pada materti perbandingan ini dengan 3 prinsip-prinsip PMRI,yaitu:
- Menggunakan konteks baju seragam sekolah merupakan fenomena-fenomena mendidik yang mengandung konsep matematika materi perbandingan. Siswa diberi kesempatan untuk mengkontruksi konsep-konsep matematika atau mengalami sendiri proses yang sama saat mereka melakukan pengukuran dan membuat ukuran pola baju sebenarnya dan bukan pola baju sebenarnya (digambar ukuran kecilnya)
- Dari konteks tersebut dapat dijadikan bahan dalam pembelajaran matematika yang berangkat dari keadaan yang real bagi siswa sebelum mencapai tingkatan-tingkatan matematika formal.
- Adanya model berupa gambar pola baju pada buku mereka. Membandingkan pola baju sebenarnya berdasarkan hasil pengukuran dan pola baju yang digambar pada buku mereka, berperan sebagai jembatan antara pengetahuan informal dan matematika formal
Kesimpulan
Dari hasil pembelajaran yang saya lakukan pada materi perbandingan dengan pendekatan PMRI di SMP Negeri 27 Palembang dapat disimpulkan bahwa anak-anak tersebut sangat menyenangi cara pembelajaran seperti itu. Pertama dengan ditunjukkan baju seragam sekolah oleh guru pada mereka, di pikiran mereka sudah mulai muncul pertanyaan-pertanyaan ” apa maksud nya guru menunjukkan ini?”. Kemudian guru menunjukkan 4 macam gambar secara acak dan meminta mereka untuk menyusun urutan yang benar dari gambar tersebut dan meminta mereka untuk menjelaskan mengapa mereka mengurutkannya seperti itu. Dipikiran mereka mulai terbentuk apa yang diinginkan dalam proses itu. Kemudian mereka mulai diberi permasalahan dengan mulai meminta mereka untuk membuat desain baju menurut ide mereka sendiri, banyak sekali ragam desain yang mereka buat dan satupun tidak ada yang sama. Mereka dengan senang menggambarnya dan mereka mulai termotivasi. Proses selanjutnya yaitu dengan melakukan pengukuran. Dari hasil pengukuran mereka mendapatkan angka-angka. Kemudian angka-angka inilah yang mereka pakai untuk kegiatan pembelajaran selanjutnya. Guru sudah memulainya dengan sesuatu yang bentuknya konkreet ke yang abstrak, dari model of ke model for, dan dari informal ke formal. Itu artinya guru sudah bertindak sebagai fasilitator, moderator dan evaluator. Dan pada pembelajaran ini sudah ada keterkaitannya dengan 3 prinsip dan 5 karakteristik dalam PMRI..
Sumber:
Zulkardi.2002.Developing a ‘rich’ learning environment on Realistic Mathematics
Education (RME) for student teachers in Indonesia. Disertation. ISBN.
University of Twente, Enschede. The Nederlands.
Wagiyo.A, dkk. 2008. Pegangan Belajar Matematika. Depdiknas.
Dewi Nuharini&Tri Wahyuni.2008. Matematika Konsep dan Aplikasinya. Depdiknas.
Wintarti,Atik, dkk.2008. Contextual Teaching and Learning Matematika. Depdiknas.
Hadi, Sutarto. 2005. Pendidikan Matematika Realistik. Tulip. Banjarmasin
Karso. 2009. Kajian Kesetaraan antara Pendekatan Kontekstual dengan Realistikc
Mathematic Education.http://karso.mulyo.blog.plasa.com/2009/02/01/kajian-
kesetarapan-antara-pendekatan-kontekstual-dengan-realistic-mathematic-
education/
Sukendar, Isnawati. 2006. Belajar Menjahit Pakaian. Add Isnawati Sukendar’s Blog
masyaAlloh, bagus sekali. izin untuk dikopi boleh?
Dengan senang hati…silahkan di copi…