22
Sep
11

MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK PADA PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA

MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK PADA PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA 

Oleh  :

Hj. Lela Anggraini, M.Pd

( Guru SMA Plus Negeri 17 Palembang)

A.  PENDAHULUAN

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 22 tahun 2006  tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, ditetapkan salah satu tujuan mata pelajaran matematika agar peserta didik memiliki kemampuan memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.

Asumsinya guru telah melaksanakan kurikulum 2006 atau yang disebut dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Namun kenyataan masih tidak sesusai dengan harapan, kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika masih kurang. Siswa masih mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah matematika, sedangkan guru menghadapi kesulitan dalam memilih model pembelajaran yang sesuai dengan persoalan tersebut.

Menurut Aunurrahman (2009:176) keberhasilan proses pembelajaran merupakan  muara dari seluruh aktifitas yang dilakukan guru dan siswa. Artinya, apapun bentuk kegiatan-kegiatan  guru, mulai dari merancang pembelajaran, memilih dan menentukan materi, pendekatan, strategi dan metode pembelajaran, memilih dan menentukan tehnik evaluasi, semuanya diarahkan untuk mencapai keberhasilan belajar siswa. Meskipun guru secara sungguh-sungguh telah berupaya merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik, namun masalah-masalah belajar tetap akan dijumpai guru. Hal ini merupakan pertanda bahwa belajar merupakan kegiatan yang dinamis sehingga guru perlu secara terus menerus mencermati perubahan-perubahan yang terjadi pada siswa di kelas.

Selanjutnya Aunurrahman (2009:176) menyatakan masalah-masalah belajar bisa muncul dari diri siswa maupun dari luar diri siswa. Masalah-masalah itu dapat dikaji dari sumbernya dan dari tahapannya. Dari sumbernya yaitu dari faktor guru dan faktor siswa. Yang bersumber dari siswa diantaranya sikap, motivasi, dan minat siswa, sedangkan yang bersumber dari guru diantaranya model pembelajaran yang diterapkan oleh guru Sedangkan dikaji dari tahapannya, masalah belajar dapat terjadi  pada waktu sebelum belajar, selama proses belajar dan sesudah belajar.

Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari kemampuan guru menerapkan model-model pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan intensitas keterlibatan siswa secara efektif di dalam proses pembelajaran. Pengembangan model pembelajaran yang tepat pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat belajar secara aktif dan menyenangkan sehingga siswa dapat meraih hasil belajar dan prestasi yang optimal.

Joice, Weil, dan Calhoun (dalam Aunurrahman, 2009:148) mendeskripsikan empat kategori model pembelajaran, yaitu kelompok model social (social family), kelompok pengolahan informasi (informasi proceeding family), kelompok model personal (personal familiy), dan kelompok model system prilaku (behavioral systems familiy). Adapun yang temasuk dalam kelompok model social yaitu, Group investigation (Investigasi Kelompok) , Role Playing (Bermain Peran) dan Jurisprodential Inquiri (Model Penelitian Yurisprudensi).

Dalam tulisan ini dipilih model pembelajaran investigasi kelompok karena dengan pembelajaran model investigasi kelompok siswa belajar bersama, saling membantu, dan berdiskusi bersama-sama dalam menemukan dan menyelesaikan masalah.

B. MODEL-MODEL PEMBELAJARAN

Lapp, Bender, Ellenwood, & John (dalam Aunurrahman: 1975) berpendapat bahwa berbagai aktifitas belajar mengajar dapat dijabarkan dari 4 model utama, yaitu; (1) The Classical Model, (2)The Technological Model, (3) the Personalised Model, dan (4) The Interaction Model.

Stalling (dalam Aunurrahman:1997), mengemukakan 5 model dalam pembelajaran : (1) TheExploratory Model, (2) The Group Process Model, (3) The Developmental Cognitive Model, (4) The Programmed Model dan (5) The Fundamental Model.

Joyce, Weil, dan Calhoun (dalam Aunurrahman:2000) mendeskripsikan empat kategori model mengajar, yaitu:

1.      Kelompok Model Interaksi Sosial ( Social Interaction Models)

  • Investigasi Kelompok (Group Investigation)
  • Bermain Peran (Role Playing)
  • Model Penelitian Yurisprudensi (Jurisprodential Inquiry)

2.      Kelompok Model Pengolahan Informasi (Information Processing Model)

  • Berpikir Induktif (Induktive Thinking)
  • Pencapaian Konsep (Concept Attainment)
  • Memorisasi
  • Advance Organizers
  • Penelitian Ilmiah (Scientific Inquiry)
  • Inquiry Training
  • Synectics

3.      Kelompok Model Personal (The Personal Family Model)

  • Pembelajaran Tanpa Arahan (Non Directive Teaching)

 

  • Model Pembelajaran untuk Meningkatkan Rasa Percaya Diri (Enhancing Self   

                  Esteem):  1) Model Latihan Kesadaran (Ewareness Training Models)

2) Model Pertemuan Kelas (Classroom Meeting)

4.  Kelompok Model-model Sistem Perilaku (The Behavioral Systems Family)

  • Belajar Tuntas (Mastery Learning)
  • Pengajaran Langsung (Direct Instruction)
  • Simulasi (Simulation)
  • Social Learning
  • Programmed Schedule

C. MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK

1. Model Pembelajaran Investigasi

Investigasi atau penyelidikan merupakan kegiatan pembelajaran yang memberikan kemungkinan siswa untuk mengembangkan pemahaman siswa melalui berbagai kegiatan dan hasil benar sesuai pengembangan yang dilalui siswa (Soppeng, 2009) . Kegiatan belajarnya diawali dengan pemecahan soal-soal atau masalah-masalah yang diberikan oleh guru, sedangkan kegiatan belajar selanjutnya cenderung terbuka, artinya tidak terstruktur secara ketat oleh guru, yang dalam pelaksananya mengacu pada berbagai teori investigasi.

Menurut Height (dalam Krismanto, 2004), investigasi berkaitan dengan kegiatan mengobservasi secara rinci dan menilai secara sistematis. Jadi investigasi adalah proses penyelidikan yang dilakukan seseorang, dan selanjutnya orang tersebut mengkomunikasikan hasil perolehannya, dapat membandingkannya dengan perolehan orang lain, karena dalam suatu investigasi dapat diperoleh satu atau lebih hasil.

Talmagae dan Hart (dalam Soppeng, 1977) menyatakan bahwa investigasi diawali oleh soal-soal atau masalah-yang diberikan oleh guru, sedangkan kegiatan belajarnya cenderung terbuka, artinya tidak terstruktur secara ketat oleh guru. Siswa dapat memilih jalan yang cocok bagi mereka. Seperi halnya Height, mereka menyatakan pula bahwa karena mereka bekerja dan mendiskusikan hasil dengan rekan-rekannya, maka suasana investigasi ini akan merupakan satu hal yang sangat potensial dalam menunjang pengertian siswa.

Menurut Soedjadi (dalam Sutrisno, 1999 : 162), model belajar “investigasi” sebenarnya dapat dipandang sebagai model belajar “pemecahan masalah” atau model “penemuan”. Tetapi model belajar “investigasi” memiliki kemungkinan besar berhadapan dengan masalah yang divergen serta alternatif perluasan masalahnya. Sudah barang tentu dalam pelaksanaannya selalu perlu diperhatikan sasaran atau tujuan yang ingin dicapai, mungkin tentang suatu konsep atau mungkin tentang suatu prinsip

Pada investigasi, siswa bekerja secara bebas, individual atau berkelompok. Guru hanya bertindak sebagai motivator dan fasilitator yang memberikan dorongan siswa untuk dapat mengungkapkan pendapat atau menuangkan pemikiran mereka serta menggunakan pengetahuan awal mereka dalam memahami situasi baru. Guru juga berperan dalam mendorong siswa untuk dapat memperbaiki hasil mereka sendiri maupun hasil kerja kelompoknya. Kadang mereka memang memerlukan orang lain, termasuk guru untuk dapat menggali pengetahuan yang diperlukan, misalnya melalui pengembangan pertanyaan-pertanyaan yang lebih terarah, detail atau rinci. Dengan demikian guru harus selalu menjaga suasana agar investigasi tidak berhenti di tengah jalan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulakan bahwa Investigasi adalah proses penyelidikan yang dilakukan seseorang, dan selanjutnya orang tersebut mengkomunikasikan hasil perolehannya, dapat membandingkannya dengan perolehan orang lain, karena dalam suatu investigasi dapat diperoleh satu atau lebih hasil.

2.  Model Pembelajaran Investigasi kelompok

Menurut Aunurrahman (2009:152) Seorang guru dapat menggunakan strategi investigation kelompok di dalam proses pembelajaran dengan beberapa keadaan, antara lain sebagai berikut:

1.      Bilamana guru bermaksud agar siswa-siswa mencapai studi yang mendalam tentang isi atau  materi, yang tidak dapat dipahami secara memadai dari sajian-sajian informasi yang terpusat  pada guru.

2.      Bilamana guru bermaksud mendorong siswa untuk lebih skeptis tentang ide-ide yang  disajikan dari fakta-fakta yang mereka dapatkan

3.      Bilamana guru bermaksud meningkatkan minat siswa terhadap suatu topik yang memotivasi mereka membicarakan berbagai persoalan di luar kelas

4.      Bilamana guru bermaksud membantu siswa memahami tindakan-tindakan pencegahan yang diperlukan atas interpretasi informasi yang berasal  dari penelitian-penelitian orang  lain yang mungkin dapat mengarah pada pemahaman  yang kurang positif

5.      Bilamana guru bermaksud mengembangkan keterampilan-keterampilan penelitian,    yang selanjutnya dapat mereka pergunakan di dalam situasi belajar yang lain, seperti  halnya cooperative learning

6.      Bilamana guru menginginkan peningkatan dan perluasan kemampuan siswa.

Menurut Killen ( dalam Aunurrahman, 1998 : 146) memaparkan beberapa ciri essensial investigasi kelompok sebagai pendekatan pembelajaran adalah: Para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil dan memilki independensi terhadap  guru

1.    Kegiatan-kegiatan siswa terfgokus pada upaya menjawab pertanyaan yang telah dirumuskan

2.    Kegiatan belajar siswa akan selalu mempersaratkan mereka untuk mengumpulkan   sejumlah data, menganalisisnya dan mencapai beberapa kesimpulan

3.    Siswa akan menggunakan pendekatan yang beragam di dalam belajar

4.    Hasil-hasil dari penelitian siswa dipertukarkan di antara seluruh siswa.

Ibrahim.(dalam Yasa, 2000:23) menyatakan dalam kooperatif tipe investigasi kelompok  guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 siswa heterogen dengan mempertimbangkan keakraban dan minat yang sama dalam topik tertentu. Siswa memilih sendiri topik yang akan dipelajari, dan kelompok merumuskan penyelidikan dan menyepakati pembagian kerja untuk menangani konsep-konsep penyelidikan yang telah dirumuskan. Dalam diskusi kelas ini diutamakan keterlibatan pertukaran pemikiran para siswa.

Slavin (2009: 218), mengemukakan tahapan-tahapan dalam menerapkan pembelajaran investigasi kelompok adalah sebagai berikut:

Tahap 1: Mengidentifikasikan Topik dan Mengatur Murid ke dalam Kelompok

                 (Grouping)

  • Para siswa meneliti beberapa sumber, memilih topik, dan mengkategorikan saran-saran.
  • Para siswa bergabung dengan kelompoknya untuk mempelajari topik yang  telah mereka pilih.
  • Komposisi kelompok didasarkan pada ketertarikan siswa dan harus bersifat heterogen.
  • Guru membantu dalam pengumpulan informasi dan memfasilitasi pengaturan.

Tahap 2: Merencanakan Tugas yang akan Dipelajari (Planning)

  • Para siswa merencanakan bersama mengenai:

Apa yang kita pelajari ?

Bagaimana kita mempelajarinya?

Siapa melakukan apa? (pembagian tugas).

Untuk tujuan atau kepentingan apa kita menginvestigasi  topik ini?

 

Tahap 3: Melaksanakan Investigasi ( Investigation)

  • Para siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data, dan membuat  kesimpulan.
  • Tiap anggota kelompok berkontribusi untuk usaha-usaha yang dilakukan kelompoknya.
  • Para siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi, dan mensintesis semua   gagasan.

 

Tahap 4: Menyiapkan Laporan Akhir (Organizing)

  • Anggota kelompok menentukan pesan-pesan essensial dari proyek mereka.
  • Anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan, dan bagaimana mereka akan membuat presentasi mereka
  • Wakil-wakil kelompok membentuk sebuah panitia acara untuk mengkoordinasikan rencana-rencana presentasi.

 

Tahap 5: Mempresentasikan Laporan Akhir (Presenting)

  • Presentasi yang dibuat untuk seluruh kelas dalam berbagai macam bentuk
  • Bagian presentasi tersebut harus dapat melibatkan pendengarnya secara aktif
  • Para pendengar tersebut mengevaluasi kejelasan dan penampilan presentasi    berdasarkan kreteria yang telah ditentukan sebelumnya oleh seluruh anggota kelas.

Tahap 6: Evaluasi (Evaluating)

  • Para siswa saling memberikan umpan balik mengenai topik tersebut, mengenai tugas yang telah mereka kerjakan, mengenai keefktifan pengalaman-pengalaman mereka
  • Guru dan murid berkolaborasi dalam mengevaluasi pembelajaran siswa.
  • Penilaian atas pembelajaran harus mengevaluasi pemikiran paling tinggi

Berdasarkan uraian di atas bahwa model pembelajaran investigasi kelompok ialah pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok yang bersifat heterogen dimana setiap anggota kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama dalam mencapai tujuan pembelajaran.

D. PEMECAHAN MASALAH FALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

1.  Pengertian Masalah

Suatu pertanyaan akan menjadi masalah jika pertanyaan itu menunjukan adanya suatu tantangan yang tidak dapat dipecahkan oleh suatu prosedur rutin yang sudah diketahui oleh si pelaku ( Fadjar Shadiq, 2004: 10). Definisi di atas mengandung implikasi bahwa suatu masalah harus mengandung adanya “tantangan” dan “belum diketahuinya prosedur rutin”. Prosedur rutin di sini adalah soal yang penyelesainnya sudah bisa ditebak, diketahui rumusnya, dan hanya dengan satu atau dua langkah soal sudah terselesaikan. Tidak semua pertanyaan merupakan suatu masalah. Bagi seseorang suatu pertanyaan bisa menjadi suatu masalah sedang bagi orang lain  tidak.

Masalah berbeda dengan soal latihan. Pada soal latihan, siswa telah mengetahui cara menyelesaikannya, karena telah jelas hubungan antara yang diketahui dengan yang ditanyakan, dan biasanya ada contoh soal. Pada masalah siswa tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya, tetapi siswa tertarik dan tertantang untuk menyelesaikannya.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat diartikan  bahwa suatu pertanyaan akan menjadi masalah hanya jika pertanyaan itu  menunjukkan adanya suatu tantangan yang tidak dapat dipecahkan oleh suatu prosedur rutin yang sudah diketahui oleh penjawab pertanyaan, sebab suatu masalah bagi seseorang dapat menjadi bukan masalah bagi orang lain karena ia sudah mengetahui prosedur untuk menyelesaikannya.

 

2. Pemecahan masalah matematika

Dalam pembelajaran matematika, masalah-masalah yang sering dihadapi siswa berupa soal-soal atau tugas-tugas yang harus diselesaikan siswa. Pemecahan masalah dalam hal ini adalah aturan atau urutan yang dilakukan siswa untuk memecahkan soal-soal atau tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Menurut Wardhani (2006:16), pemecahan masalah adalah proses menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya kedalam situasi baru yang belum dikenal. Dengan demikian ciri dari penugasan berbentuk pemecahan masalah adalah: (1) ada tantangan dalam materi, tugas, atau soal, (2) masalah tidak dapat diselesaikan dengan menggunakan prosedur rutin yang sudah diketahui penjawab.

Dari uraian diatas dapat diartikan bahwa dalam pemecahan masalah siswa didorong dan diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berinisiatif dan berfikir sistematis dalam menghadapi suatu masalah dengan menerapkan pengetahuan yang didapat sebelumnya.

3. Langkah-langkah menyelesaikan masalah

Menurut Polya (1973:5-22), ada empat langkah dalam menyelesaikan masalah yaitu:

Memahami masalah

Pada kegiatan ini yang dilakukan adalah merumuskan: apa yang diketahui, apa yang  ditanyakan, apakah informasi cukup, kondisi (syarat) apa yang harus dipenuhi, menyatakan kembali masalah asli dalam bentuk yang lebih operasional (dapat dipecahkan).

 

Merencanakan pemecahannya

Kegiatan yang dilakukan pada langkah ini adalah mencoba mencari atau mengingat masalah yang pernah diselesaikan yang memiliki kemiripan dengan sifat yang akan dipecahkan, mencari pola atau aturan , menyusun prosedur penyelesaian.

 

Melaksanakan rencana

Kegiatan pada langkah ini adalah menjalankan prosedur yang telah dibuat   pada langkah sebelumnya untuk mendapatkan penyelesaian .

 

Memeriksa kembali prosedur dan hasil penyelesaian

Kegiatan pada langkah ini adalah menganalis dan mengevaluasi apakah prosedur

yang diterapkan dan hasil yang diperoleh benar, apakah ada prosedur lain yang lebih efektif , apakah prosedur yang dibuat dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah sejenis, atau apakah prosedur dapat dibuat generalisasinya.

 

4. Stategi pemecahan masalah

Menurut Polya dan Pasmep (Fajar Shadiq, 2004:13) beberapa strategi pemecahan masalah antara lain:

Mencoba-coba

Strategi ini biasanya digunakan untuk mendapatkan  gambaran umum pemecahan masalah (trial and error). Proses mencoba-coba ini tidak akan selalu berhasil, adakalanya gagal. Proses mencoba-coba dengan menggunakan suatu analisis yang tajam sangat dibutuhkan pada penggunaan strategi ini.

Membuat diagram

Strategi ini berkait dengan pembuatan sket atau gambar untuk mempermudah memahami masalah dan mempermudah mendapatkan gambaran umum penyelesaiannya. Dengan strategi ini, hal-hal yang diketahui tidak sekedar dibayangkan namun dapat dituangkan ke atas kertas.

 

Mencobakan pada soal yang lebih sederhana

Strategi ini berkait dengan penggunaan contoh-contoh khusus yang lebih mudah dan lebih sederhana, sehingga gambaran umum penyelesaian masalah akan lebih mudah dianalisis  dan akan lebih mudah ditemukan.

Membuat tabel

Strategi ini digunakan untuk membantu menganalisis permasalahan atau jalan pikiran, sehingga segala sesuatunya tidak hanya dibayangkan saja.

Menemukan pola

Strategi ini berkait dengan pencarian keteraturan-keteraturan. Keteraturan yang sudah diperoleh  akan lebih memudahkan  untuk menemukan penyelesaian masalahnya.

        

Memecah tujuan

Strategi ini berkait dengan pemecahan tujuan umum yang  hendak dicapai. Tujuan pada bagian ini dapat digunakan sebagai batu loncatan untuk mencapai tujuan yang sebenarnya.

Memperhitungkan setiap kemungkinan

Strategi ini berkait dengan penggunaan aturan- aturan yang dibuat sendiri oleh para pelaku selama proses pemecahan masalah berlangsung sehingga dapat dipastikan tidak akan ada satu alternatif yang terabaikan.

Berpikir logis

Strategi ini berkaitan dengan penggunaan penalaran ataupun penarikan kesimpulan yang sah atau valid dari berbagai informasi atau data yang ada.

 

 

Bergerak dari belakang

Dalam strategi ini proses penyelesaian masalah dimulai dari apa yang ditanyakan, bergerak menuju apa yang diketahui. Melalui proses tersebut dianalisis untuk dicapai pemecahan masalahnya.

Mengabaikan hal yang tidak mungkin

Dalam strategi ini setelah memahami masalah dengan merumuskan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan. Bila ditemukan hal yang tidak berhubungan dengan apa yang diketahui dan apa ditanyakan sebaiknya diabaikan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa siswa dikatakan mampu memecahkan masalah apabila telah memenuhi tahap-tahap pemecahan masalah dan menggunakan strategi yang ada, selain itu pengerjaannya harus sistematis dan jelas

E. KAITAN MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK DAN

     KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA

 

Dari uraian yang telah dijelaskan sebelumnya tampak adanya keterkaitan antara model pembelajaran investigasi kelompok dan kemampuan pemecahan masalah. Pada tahap-tahap Investigasi kelompok yaitu : Pengelompokkan, perencanaan, penyelidikan, pengorganisasian, persentase dan evaluasi. Dari tahap-tahap investigasi kelompok ini berkembang langkah-langkah pemecahan masalah, yaitu: memahami masalah, merencanakan pemecahan masalah, melaksanakan rencana pemecahan masalah dan memeriksa kembali prosedur dan hasil penyelesaian.

F. SUMBER

Abeefatihazzuri. 2010. Model Pembelajaran Investigasi. (Online). http://id.shvoong.com /social-sciences/sociology/1964875-model-pembelajaran-investigasi/. (diakses 7 januari 2010).

Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

BSNP. 2010. Standar Isi. (Online). http://bsnp-indonesia.org/id/?page_id=103/. (diakses 16 Desember 2009).

Depdiknas. 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi (MTK-26: Model-model Pembelajaran Matematika). Jakarta: Ditjen Dikdasmen Depdiknas.

Krisna. 2009. Pengertian Dan Ciri-ciri   Pembelajaran. (Online). http://krisna1.blog.uns. ac.id/2009 /10/19/pengertian-dan-ciri-ciri-pembelajaran/. (diakses 5 Januari 2010).

Polya. 1973. How To Solve It. New Jersey: Princeton University Press.

Riduwan.. 2006. Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. 

            Bandung: Alfabeta.

Robertusmargana.2009. Proses dan Strategi Pemecahan Masalah. (Online). http://4.25.3. 32/search?q=cache:EtKvb77XwWYJ:robertmath4edu.wordpress.com/2009/01/15/proses-dan-strategi-pemecahan-masalah/+langkahlangkah+dalam+menyelesaikan+ soal+pemecahan+masalah&cd=7&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a. (diakses  26 Desember 2009).

Setiawan. 2006. Model Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Investigasi. PPPG

Matematika Yokyakarta 2006.

Shadiq, Fadjar. 2009. Apa dan Mengapa Matematika Begitu Penting?. (Online). http://fadjarp3g.files.wordpress.com/2009/10/09-apamat_limas_.pdf . (diakses 4 Januari  2010.

————-. 2004. Penalaran, Pemecahan Masalah dan komunikasi dalam Pembelajaran Matemátika. PPPG  Matematika Yokyakarta 2004.

Slavin. 2009. Cooperative Learning. Bandung : Nusa Media.

Soppeng, Syarif. 2009. Model Pembelajaran Investigasi dalam Pembelajaran 

 Matematika .(Online). http://www.psb-psma.org/content/blog/model- investigasi-dalam-pembelajaran-matematika. (diakses 16 Desember 2009).

Surianta, I Made. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif type STAD  dengan Media VCD. (Online). http://disdikklungkung.net/index2.php?option=com_conten t&task=emailform&id=73&itemid=46. (diakses 5 Januari 2010).

Sutrisno, Joko. 2001. Penguasaan Konsep dan Prinsip serta kemampuan Pemecahan

            Masalah  Siswa dalam Geometri Melalui Model Pembelajaran  Investigasi

            Kelompok (Studi  Eksperimen di SLTP Negeri 4 Kodya Bandar Lampung).

Proposal Penelitian. Bandung: PPS UPI  Bandung..(Online).  http://74.125.153. 132/search?q=cache:qF6J2Ea4kNsJ:www.scribd.com/doc/16862558/ProposalJoko+contoh+proposal+investigasi+kelompok+penelitian+experimen&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a.  (diakses 16 desember 2009).

Tim MKPBM. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Universitas Pendidikan Indonesia.

Wardhani, Sri.2006. Permasalahan Pembelajaran dan Penilaian Kemahiran Matematika SMP.  PPPG Matematika Yokyakarta 2006.

Yahya, HalimFathani. 2009. Memahami Kembali Definisi dan Deskripsi Matematika.           (Online). http://masthoni.wordpress.com/2009/07/12/melihat-kembali-definisi-dan-deskripsi-matematika/.  (diakses 5 Januari10).

Yasa, Doantara. 2008.  Pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation (GI)                (Online).http://74.125.153.132/search?q=cache:kW9RbrkxSBgJ:ipotes.wordpress.com/2008/04/28/pembelajaran-kooperatif-tipe-group-investigation-gi/+tahap-tahap+investigasi+kelompok+dalam+matematika&cd=8&hl=id& ct=clnk&gl=id (diakses 31 Desember 2009).


0 Responses to “MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK PADA PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: