22
Mei
09

RME: TUGAS MERINGKAS BAB 2

MEMAHAMI  RME

Bagian ini menjelaskan tentang latar belakang RME, beserta filosofi dan 5 dalil RME serta menyajikan materi kurikulum RME dan materi contoh pembelajaran RME

1.  Filosofi dan karakteristik RME

RME meliputi pandangan apakah matematika itu, bagaimana murid dapat mempelajari matematika, dan bagaimana matematika tersebut harus diajarkan kepada murid  Teori ini sangat dipengaruhi oleh konsep Hans Freudhenthal’s  “ mathematics as a human activity “ (Freudhenthal, 1991), menurutnya murid tidak boleh  diperlakukan sebagai penerima pasif dari rumus-rumus matematika yang telah ada, tetapi lebih kepada pembelajaran yang dapat membimbing murid untuk melakukan penemuan dan melakukan penelitian sendiri.

Karakteristik dari RME berhubungan dengan tingkatan-tingkatan dalam belajar matematika yang dikemukakan oleh Van Hiele (cf. de lange, 1996) yaitu: (1) Murid akan mencapai tingkat pertama jika mereka dapat mengolah sendiri data –data yang mereka telah kenali sebelumnya; (2) Setelah murid dapat mengolah karakteristik data yang tidak saling berhubungan  mereka sampai pada tingkat kedua; (3) Mereka mencapai level ketiga jika mereka dapat mengelola hubungan intrinsic dari data yang diolahnya. Instruksi tradisional bergerak dari tingkat kedua menuju ketingkat ketiga, sedangkan instruksi realistic mulai dari tingkat awal. Pada saat memulai dari level awal –seseorang yang berhubungan dengan data-data yang dikenal oleh murid-murid harus menggunakan Freudenthal didactical enphomenology bahwa belajar harus dimulai dari mengerti permasalahan kontekstualnya. Selanjutnya dengan membimbing penemuan melalui matematika progressive, murid-murid dibimbing melangkah menjalani satu level ke level di atasnya  dengan berpikir melalui matematika.

Kombiansi dari ketiga tingkat Van Hiele’s, Freudhenthal didactical phenomenology serta matematika progressive oleh Treffer (Treffer, 1991) menghasilkan lima dalil RME (de lange, 1987 ; Gravemeijer, 1994)

  1. Penggunaan Konteks dalam eksplorasi phenomenology
  2. Penggunaan Model atau Jembatan menggunakan instrument vertical
  3. Penggunaan kreasi dan kombinasi masing-masing murid
  4. Karakter interaktif dalam proses pengajaran atau proses interaktifitas, dan
  5. Penyatuan variasi jenis-jenis pembelajaran atau unit-unit.

2.  Penyusunan materi kurikulum RME

Kelima dalil RME digunakan sebagai panduan dalam menyusun materi kurikulum. Streefland (1991) mengembangkan materi pelajaran matematika realistic (dipelajari di SMP) menggunakan tiga tingkatan:

Level Kelas

  1. Pada level ini, aktifitas instruksional dirancang berdasar kepada semua karakteristik RME. Materi terbuka diperkenalkan ke dalam proses belajar dan peluang disediakan untuk menghasilkan ‘produksi bebas’

Level Kursus

Level ini disebut juga level rangkaian instruksi. Materi dari level kelas diuji coba dan dibahas kembali, materi tersebut dikembangkan ke dalam konteks yang lain dalam rangka mengembangkan rangkaian instruksi dari sebuah topic. Artinya sebuah pengukuran dilakukan sebagai kontribusi dalam proses belajar di level local dan harus dilanjutkan pada level umum.

Level Teori

Semua aktifitas yang dikakukan pada kedua level di atas seperti merancang, mengembangkan, didaktikal, refleksi dan percobaan di dalam kelas, dari sumber produksi teoritikal-merupakan materi generatif pada level ini. Di sini sebuah teori yang terbentuk dari teori local untuk daerah belajar tertentu disusun, dibahas dan diuji kembali selama penambahan perputaran pengembangan.

CASCADE-IMEI, memfokuskan kepada level kelas, yang mana contoh materi  belajar untuk  beberapa topic matematika dari buku –buku matematika yang ada diterapkan dalamkurikulum Indonesia.

3.  Contoh materi pelajaran RME

Beberapa variasi dari permasalahan kontekstual telah terikat di dalam kurikulum sejak awal. Bagian dari permasalahan kontekstual  tersebut akan menuntun murid menguasai materi mtematika.

Peranan RME bagi guru di dalam kelas (de lange, 1996; Gravemeijer, 1994): sebagai fasilitator, sebagai pengatur, sebagai pembimbing dan sebagai penilai.  Peranan murid dalam kelas RME adalah bahwa apakah mereka bekerja perorangan atau dalam sebuah kelompok, mereka harus aktif dan harus lebih mandiri, mereka tidak boleh konsultasi dengan guru untuk mempertanyakan apakah jawaban mereka benar atau salah atau meminta guru untuk membantu mereka memecahkan masalah mereka, dan murid-murid di haruskan membuat kreasi bebas atau kontribusi. Pengujian dapat dilakukan di kelas menggunakan berbagai strategi dalam kedua proses interaksi (formatif) dan menghasilkan pemecahannya sendiri (sumatif). Dalam RME, kedua proses produk dianggap sama pentingnya.


0 Responses to “RME: TUGAS MERINGKAS BAB 2”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: