22
Mei
09

TUGAS 3: GESTALT & PIAGET

Teori-teori pembelajaran matematika

A. Menurut aliran psikologi Gestalt

Gestalt psychologists (1920s-1950s)

Teori Belajar Gestalt

Perintis teori Gestalt ini ialah Chr. Von Ehrenfels, dengan karyanya “Uber Gestaltqualitation“ (1890). Aliran ini menekankan pentingnya keseluruhan  yaitu  sesuatu yang melebihi jumlah unsure-unsurnya dan timbul lebih dulu dari pada bagian-bagiannya. Pengikut-pengikut aliran psikologi Gestalt mengemukakan konsepsi yang berlawanan dengan konsepsi aliran-aliran lain . Bagi yang mengikuti aliran Gestalt perkembangan itu adalah proses diferensiasi.

Dalam proses diferensiasi itu yang primer ialah keseluruhan , sedangkan bagian –bagiannya adalah sekunder; bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian dari pada keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lain ; keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya. Contohnya  kalau kita bertemu dengan seorang teman misalnya, dari kejahuan yang kita saksikan terlebih dahulu bukanlah bajunya yang baru , melainkan teman kita itu secara keseluruhan selanjutnya baru kemudian kita saksikan adanya hal-hal khusus tertentu misalnya baju yang baru.

Selanjutnya  Wertheimer, seorang  yang di pandang pendiri aliran ini mengemukakan eksperimennya mengenai  “Scheinbewegung“ (gerak semu) memberikan kesimpulan, bahwa pengamatan mengandung  hal yang melebihi  jumlah unsur-unsurnya. Penelitian dalam bidang optik ini juga di pandang berlaku ( kesimpulan serta prinsip-prinsipnya ) di bidang lain, seperti  misalnya di bidang belajar.

Pokok-pokok Teori Belajar Gestalt.

Psikologi Gestalt  bermula pada lapangan pengamatan  ( persepsi ) dan mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini. Demonstrasinya mengenai  peranan latar  belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah.

Ketika para ahli Psikologi Gestalt beralih dari masalah pengamatan ke masalah belajar, maka hasil-hasil yang telah kuat / sukses dalam penelitian  mengenai pengamatan itu dibawanya dalam studi mengenai belajar . Karena asumsi bahwa  hukum –hukum atau prinsip-prinsip yang berlaku pada proses pengamatan  dapat ditransfer kepada hal belajar, maka untuk memahami proses belajar orang perlu  memahami hukum-hukum yang menguasai proses pengamatan itu.

Pada pengamatan itu menekankan perhatian pada bentuk yang terorganisasi (organized form) dan pola  persepsi manusia . Pemahaman  dan persepsi tentang hubungan-hubungan dalam kebulatan (entities) adalah sangat esensial dalam belajar. Psikologi Gestalt ini terkenal juga sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory. Kelompok pemikiran ini sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar bahwa pengalaman manusia memiliki kekayaan medan yang memuat fenomena keseluruhan lebuh dari pada bagian- bagiannya.

Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting, antara lain :

1. Manusia bereaksi dengan lingkunganya secara keseluruhan, tidak hanya secara

intelektual, tetapi juga secara fisik, emosional,sosial dan sebagainya

2. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan.

3. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa, lengkap

dengan segala aspek-aspeknya.

4. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas.

5. Belajar hanya berhasil, apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight.

6. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar, motivasi membei dorongan

yang mengerakan seluruh organisme.

7. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan.

8. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif, bukan ibarat suatu bejana yang

diisi.

Belajar sangat menguntungkan untuk kegiatan memecahakan masalah. Hal ini nampaknya juga relevan dengan konsep teori belajar yang diawali dengan suatu pengamatan. Belajar memecahkan masalah diperlukan suatu pengamatan secara cermat dan lengkap. Kemudian

bagaimana seseorang itu dapat memecahknan masalah mernurut J. Dewey ada 5 upaya pemecahannya yakni:

  1. Realisasi adanya masalah. Jadi harus memehami apa masalahnya dan juga harus dapat

merumuskan
2.   Mengajukan hipotesa, sebagai suatu jalan yang mungkin memberi arah pemecahan

masalah.
3. Mengumpulkan data atau informasi, dengan bacaan atau sumber-sumber lain.
4.   Menilai dan mencobakan usah pembuktian hipotesa dengan keterangan-keterangan yang

diperoleh.
5.  Mengambil kesimpulan, membuat laporan atau membuat sesuatu dengan hasil

pemecahan  soal itu.

Teori medan ini mengibaratkan pengalaman manusia sebagai lagu atau melodi yang lebih daripada kumpulan not, demikian pila pengalaman manusia tidak dapat dipersepsi sebagai sesuatu yang terisolasi dari lingkungannya. Dengan kata lain berbeda dengan teori asosiasi maka toeri medan ini melihat makna dari suatu fenomena yang relatif terhadap lingkungannya. Sesuatu dipersepsi sebagai pendek jika objek lain lebih panjang. Warna abu-abu akan terlihat lebih cerah pada bidang berlaatr belakang hitam pekat. Warna abu-abu akan terliaht biru pada latar berwarna kuning.

Belajar melibatkan proses mengorganisasikan pengalaman-pengalaman kedalam pola-pola yang sistematis dan bermakna. Belajar bukan merupakan penjumalahan (aditif), sebaliknya belajar mulai dengan mempersepsi keseluruhan, lambat laun terjadi proses diferensiasi, yakni menangkapbagian bagian dan detail suatu objek pengalaman. Dengan memahami bagian / detail, maka persepsi awalakan keseluruhan objek yang semula masih agak kabur menjadi semakin jelas. Belajar menurut paham ini merupakan bagian dari masalah yang lebih besar yakni mengorganisasikan persepsi kedalam suatu struktur yang lebih kompleks yang makin menambah pemahaman akan medan. Medan diartikan sebagaikeseluruhan dunia yang  bersifat psikologis. Seseorang meraksi terhadap lingkungan seauai dengan persepsinya terhadap lingkungan pada saat tersebut. Manusia mempersepsi lingkungan secara selektif, tidak semua objek masuk kedalam fokus persepsi individu, sebagian berfungsi hanya sebagai latar.

Tekanan ke-2 pada psikologi medan ini adalah sifat bertujuandari prilaku manusia. Individu menetaokan tujuan berdasarkan tilikan (insight) terhadap situasi yang dihadapinya. Prilakunya akan dinilai cerdas atau dungu tergantung kepada memdai atau tidaknya pemahamanya akan situasi

Hukum-Hukum Belajar Gestalt

Dalam hukum-hukum belajar Gestalt ini ada satu hukum pokok , yaitu hukum Pragnaz, dan empat hukum tambahan  (subsider) yang tunduk kepada hukum yang pokok itu,yaitu hukum –hukum keterdekatan , ketertutupan, kesamaan , dan kontinuitas.

1. Hukum Pragnaz.

Hukum Pragnaz ini menunjukkan tentang berarahnya segala kejadian , yaitu berarah kepada Pragnaz itu, yaitu suatu keadaan  yang seimbang, suatu Gestalt yang baik. Gestalt yang baik , keadaan yang seimbang ini mencakup sifat-sifat keturunan, kesederhanaan ,kestabilan, simetri dan sebagainya.

Medan pengamatan ,jadi juga setiap hal yang dihadapi oleh individu, mempunyai sifat dinamis, yaitu cendrung untuk menuju keadaan Pragnaz itu , keadaan seimbang . Keadaan yang problematis adalah keadaan yang tidak Pragnaz, tidak teratur, tidak sederhana, tidak stabil, tidak simetri , dan sebagainya dan pemecahan problem itu ialah mengadakan perubahan kedalam struktur medan atau hal itu dengan memasukkan  hal-hal yang dapat membawa hal problematis ke sifat Pragnaz.

2. Hukum-hukum tambahan

Ahli-ahli psikologi Gestalt telah mengadakan penelitian secara luas dalam bidang penglihatan dan akhirnya mereka menemukan bahwaobjek-objek penglihatan itu membentuk diri menjadi Gestalt-gestalt menurut prinsip-prinsip tertentu. Adapun prisip-prinsip tersebut dapat dilihat pada hukum-hukumyaitu :

Hukum keterdekatan

Hukum ketertutupan

Hukum kesamaan

Selain dari hukum-hukum tambahan tersebut menurut aliran teori belajar gestalt ini bahwa seseorang dikatan belajar jika mendapatkan insight. Insight ini diperoleh kalau seseorang melihat hubungan tertentu antara berbagai unsur dalan situasi tertentu. Dengan adanya insight maka didapatlah pemecahan problem, dimengertinya persoalan ; inilah inti belajar. Jadi yang penting bukanlah mengulang- ulang hal yang harus dipelajari, tetapi mengertinya, mendapatkan insight.

Adapun timbulnya insight itu tergantung

a. Kesangupan

Maksudnya kesanguapan atau kemampuan intelegensi individu.

b. Pengalaman

Karena belajar, berati akan mendapatkan pengalaman dan pengalaman itu mempermudah

munculnya insght.

c. Taraf kompleksitas dari suatu situasi.

Dimana semakin komplek situasinya semakin sulit masalah yang dihadapi.

d. Latihan

Dengan banyaknya latihan akan dapat mempertinggi kesangupan memperoleh insght,

dalam situasi-situasi yang bersamaan yang telah dilatih .

e. Trial and eror

Sering seseorang itu tidak dapat memecahkan suatu masalah. Baru setelah mengadakan percobaan-percobaan, sesorang itu dapat menemukan hubungan berbagai unsur dalam problem itu, sehingga akhirnya menemukan insight.

Menurut Hilgard(1948 : 190-195) memberikan enam macam sifat khas belajar dengan insight :

1. Insight termasuk pada kemampuan dasar

  1. Kemampuan dasar berbeda-beda dari individu yang satu ke individu yang lain. Pada           umumnya anak yang masih sangat muda sukar untuk belajar dengan insight ini.

2. Insight itu tergantung pengalaman masa lampau yang relevan.

3. Insight tergantung kepada pengaturan secara eksperimental

4. Insight itu didahului oleh suatu periode coba-coba

5. Belajar dengan insight itu dapat diulangi

  1. 6. Insight yang telah sekali didapatkan dapat dipergunakan untuk menghadapi   situasi-

situasi yang baru

Teori Gestalt

Pekerjaan yang berkaitan dengan masalah belajar yang sangat terkenal dilakukan oleh Kohler antara 1913 dan 1917 di Stasiun Universitas Berlin Tenerife, Kepulauan Canary.

Gestalt berasumsi bila suatu organisme dihadapkan pada suatu problem, maka kedudukan kognisinya tidak seimbang sampai problem tersebut dipecahkan. Kognisi yang tidak seimbang tersebut, akan mendorong organisme untuk mencari kesimbangan system mental. Menurut hukum pragnanz, kognisi yang seimbang akan memuaskan dari pada kognisi yang tidak seimbang. Dalam hal ini gestalt setuju dengan Guthrie dan Hull. Problem tersebut tetap merupakan stimulus (drive pada Hull), sampai problem itu terpecahkan. Tugas-tugas yang tidak lengkap akan diingat lebih lama dan lebih mendalam daripada yang sudah lengkap (seimbang).

Menurut gestalt belajar adalah fenomena kognitip. Organisme akan melakukan pemecahan setelah menghadapi suatu masalah. Organisme akan berpikir tentang semua bahan yang diperlukan untuk memecahkan masalahnya, dan mengambil suatu cara, kemudian cara yang lain, sampai problem tersebut terpecahkan. Organisme itu menemukan insight untuk memecahkan problem. Problem tersebut ada dua, yaitu yang tidak dapat dipecahkan dan yang dapat dipecahkan. Thorndike percaya bahwa belajar adalah kontinyu dalam peningkatan secara sistematis sebagai fungsi dari trial an error (mencoba-coba). Gestaltist percaya bahwa suatu problem ada yang dapat dipecahkan dan ada yang tidak dapat dipecahkan, belajar tidak kontinyu, untuk hal ini sampai sekarang masih diperdebatkan.

Ketika teori behaviorisme Watson untuk pertama kali diterbitkan, para psikologi Amerika mulai meninggalkan pendekatan strukturalisme. Ini berarti pula bahwa eksperimen-eksperimen yang pernah dipopulerkan oleh Wundt dan Titchener mulai kehilangan popularitas dan daya pikatnya. Demikianlah sehingga pendekatan ilmiah ortodoks Watson mendapat sambutan hangat di kalangan ilmuawan psikologi moderen dan diterima umum sebagai suatu pendekatan yang objektif ilmiah.

Sementara itu, di Jerman ada satu kelompok psikologi yang tetap merasa tertarik pada pendekatan strukturalisme versi Wundt. Agaknya kelompok ini melihat pendekatan strukturalisme dari sudut pandang yang lain dimana perhatian utama kelompok ini masih pada persepsi tetapi dengan fokus pada ‘trick’ tertentu yang dipengaruhi oleh pikiran. Gestalt adalah sutu aliran psikologi yang mempelajari bagaimana cara persepsi terjadi dan bagaimana objek dialami sebagai suatu pola menyeluruh.

Istilah “Gestalt” adalah kata dari bahasa Jerman yang berarti bentuk, pola, bingkai, atau keseluruhan (menyeluruh). Dalam kaitannya dengan persepsi istilah tersebut menunjuk pada kecenderungan individu untuk melihat bentuk, pola keseluruhan dari apa yang diamati. Dalam keseluruhan itu subjek mampu membedakan objek dari konteks atau latarbelakangnya. Max

Wertheimer (1880-1943) seorang psikologi Jerman yang pertama kali memperkenalkan teori psikologi Gestalt yang mula-mula dimuat dalam artikel Wertheimer pada tahun 1912, ia sangat dekat dengan Wolfgang Kohler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1886-1941). Kohler dan Kofka melakukan percobaan yang pertama untuk penelitian Wertheimer. Ide-ide ktiga orang ini sejajar dan memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi psikologi Gestalt.

Penemuan Gestalt dimulai sebagai akibat insight Wertheimer ketika naik kereta api sambil membaca waktu liburan. Ia melihat sinar berkedap-kedip (hidup dan mati) dengan jarak tertentu. Sinar itu memberi kesan sebagai suatu sinar yang bergerak datang dan pergi tidak terputus-putus.

Kemudian ia meninggalkan kereta api dan membeli permainan yang digunakan untuk menampilkan rangsangan penglihatan dalam jarak waktu bervariasi. Ia melakukan eksperimen sederhana di dalam kamar hotel. Ia mencoba mengembangkan kesan yang telah diperoleh didalam kereta api, bahwa jika mata melihat perangsang dengan cara tertentu, akan memberikan ilusi gerakan. Wertheimer menyebut gejala ini dengan istilah phi phenomenom. Phi phenomenom ini sangat berbeda dengan elemen-elemen yang membentuknya. Sensasi yang terbentuk tidak dapat dijelaskan dengan menganalisis masing-masing dari dua sinar yang hidup mati tersebut. Impresi pengalaman itu timbul dari kombinasi elemen-elemen itu sendiri.

Dengan alasan ini, maka sejumlah psikolog Getalt percaya, pengalaman-pengalaman psikologis itu timbul dari penginderaan elemen-elemen itu. Dengan kata lain bahwa ; Pengalaman fenomenologis merupakan akibat dari penginderaan pengalaman, tetapi tidak dapat dipahami dengan menganalisis pengalaman fenomena dalam elemen-elemennya.

Pengalaman fenomena berbeda dengan jumlah bagian-bagian yang membentuknya. Gestalt merupakan keseluruhan yang penuh arti. Kita tidak menghayati stimulus-stimulus itu secara tertutup, tetapi stimulus-stimulus itu secara bersama-sama serempak kedalam konfigurasai yang penuh arti. Keseluruhan itu lebih dari jumlah bagian-bagiannya. Bila kita mengamati seseorang, kita tidak mengamati pertama-tama satu tangan, kemudian yang lainnya seperti hidung, mulut, telinga, kaki, mata dan seterusnya, lalu kemudian mencoba untuk mengambil kesan bersama. Kita tidak dapat memahami pengalaman mendengarkan simponi orkestra dengan menganalisa konstribusi sebagian-sebagian dari musikus. Kesan atau pengalaman dari simponi itu lebih penuh arti, lebih hakiki daripada jumlah nada yang dimainkan musikus. Melodi mempunyai suatu quality yang timbul yang berbeda dari bagian-bagian musik pembentuknya.

Belajar Psikologi Gestalt dan implikasinya di dalam belajar dan pembelajaran

Para pengikut-pengikut aliran psikologi Gestalt mengemukakan konsepsi yang berlawanan dengan konsepsi yang dikemukakan oleh para ahli yang mengikuti aliran-lairan lainnya seperti aliran Asosiai. Bagi para ahli pengikut Gestalt, perkembangan itu adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi itu yang primer adalah keseluruhan, sedangkan bagian-bagian adalah sekunder; bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian daripada keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lainnya; keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya. Bila kita bertenu dengan seorang teman misalnya, dari kejauhan yang kita saksikan terlebih dahulu bukanlah bajunya yang baru atau pulpennya yang bagus, atau dahinya yang terluka, melainkan justru teman kita itu sebagai keseluruhan, sebagai Gestalt; baru kemudian menuyusul kita saksikan adanya hal-hal khusus tertentu seperti bajunya yang baru, pulpennya yang bagus, dahinya yang terluka, dan sebagainya.

Seorang anak kecil, yang di rumahnya ada seekor kucing yang dinamai “Melati”, mula-mula akan menyebut semua kucing yang dijumpainy – bahkan mungkin harimau di kebun binatang – dengan nama “Melati”, baru kemudian dia dapat mengetahui bahwa tidak semua kucing itu namanya “Melati”, ada kucing yang mempunyai nama-nama. Proses ini adalah proses diferensiasi.

Juga pengenalan anak terhadap dunia luar merupakan proses diferensiasi. Mula-mula anak merasa satu dengan dunia sekitarnya, baru kemudian ada diferensiasi: dia meras (mengetahui) dirinya sebagai sesuatu yang berbeda dari dunia sekitarnya. Lebih jauh dia dapat membedakan bahwa dunia sekitarnya itu terdiri dari manusia dan bukan manusia, dan selanjutnyanya manusia itu berbagai-bagai pila, ada ibu dan bukan ibu; dan yang bukan ibu itu itu disebut dengan ayah, kakek, nenek, dan sebagainya. Selanjutnya aliran Neo-Gestalt, yang bentuk nyatanya salsah satu aliran psikologi Medan (yang dirintis oleh Kurt Lewin) tehadap proses stratifikasi. Struktur pribadi itu masih terdiri dari lapisan-lapisan (strata); lapisan-lapisan itu makin lama makin bertambah. Anak kcil kehidupan psikisnya mula-mula hanya terdiri dari satu lapis; apa yang dinampakkan keluar itu pulalah adanya di dalamm; tidak ada hal yang disembunyikan. Itulah yang membuat anak kecil tidak akan berdusta dengan sengaja. Jika dia berdusta, maka itu adalh dusta khayal. Makin bertambah dewasa dia, maka lapisan itu makin terbentuk dan bertambah. Demikianlah pada orang deasa, isi batin kita dapat kita gambarkan sebagai berlapis-lapis: lapisan-lapisan paling luar paling gampang terpengaruh dari luar dan dinyatakan keluar, lapisan-lapisan, paling dalam adalah hal yang bersifat pribadi, mungkin dipandang hal yang bersifat  “top secret” , hal  yang tidak akan dinyatakan kepada setiap orang, melainkan akan dinyatakan kepada seseorang atau orang-orang tertentu; juga hal ini merupakan hal yang pailng dipertahankan dan paling sukar untuk dipengaru dari luar.

Banyak ahli psikolog mempertentangkan ilmu aliran asosiasi dan aliran psikologi mmepertentangalama bertentangan dengan psikologi Gestalt. Pada waktu ini konsepsi Gestalt dan Neo-Gestalt itu diterima oleh sebagaian besar, walaupun itu dengan variasi neberbeda-beda antar yang satu dari yang lain..

Max Wertheiner adalah pendiri mazhab Gestalt. Teori ini sering disebut dengan field theory atau insight ful learning. Menurut Gestalt, manusia itu bukanlah hanya sekadar makhkluk yang hanya berbuat jika ada perangsangan yang mempengaruhinya. Sebagai individu manusia beraksi atau lebih cepat berinteraksi dengn dunia luar sesuai dengan kepribadiannya, dan hanya dengan cahaya yang unik pula.

Sebagai  pribadi, manusia tidak secara langsung beraksi kepada suatu perangsang dan tidak pula reaksninya itu dilakukanh secara tial dan error. Reaksi manusia terhadap dunia luar tergantung kepada bagaimana ia menerima stimulus dan bagaimana serta apa motif-motif yang ada padanya.

Dengan demikian, belajar menurut aliran ini bukan hanya sekedar proses asosiasi antara stimulus-respon yang makin lama semakin kuat  karena adanya latihn-latihan atau pengulangan-pengulangan, melainkan belajar terjadi jika ada pengertian (insight), pengertian insight nucul apabila seseorang telah beberapa saat mencoba memahami suatu masalah, tiba-tiba muncul adanya kejelasan, terlihat adanya hubungan unsur-unsur yang satu dengan yang lain, kemudian memahami kaitannya, dimengerti maknanya. Belajar adalah suatu proses rentetan penemuan dengan bantuan pengalamannya yang banyak dan berserakan menjadi suatu struktur dan kebudayaan yang berarti dan dipahaminya.

Teori kognitif dari psikologi Gestalt ini terdiri dari beberapa terori lagi yang di dalamnya terimplikasi belajar dan pembelajaran. Teori-teori tersebut  adalah:

Tujuan yang berwawasan, dengan konsep konfiguralisme. Tekeanan dalam pebelajarannya adalah “Membanutu siswa mengembangkan wawasan yang berkualitas tinggi. Tokoh-tokohnya : Bode, Mheeler, Batles.

Wawasan kognitif, yaitu relative positive (piskologi wawasan). Tekanan dalam pembelajarannya: “Membantu siswa merastruktur ‘life spaces’ mereka, meletakkan wawasan baru ke dalam situasi siswa.” Tokoh-tokohnya: Lewin, Dewey, Alport Bigge, Brumner, Koch.

Gestalt

Istilah “Gestalt” mengacu pada sebuah objek/figur yang utuh dan berbeda dari penjumlahan bagian-bagiannya Aliran Gestalt muncul di Jerman sebagai kritik terhadap strukturalisme Wundt. Pandangan Gestalt menolak analisis dan penguraian jiwa ke dalam elemen-elemen yang lebih kecil karena dengan demikian, makna dari jiwa itu sendiri berubah sebab bentuk kesatuannya juga hilang

Kelompok Wuerzburg.

Selain kelompok Wundt, di Jerman berkembang lagi sebuah kelompok intelektual yang ikatannya tidak sekuat kelompok Wundt, namun merasa tidak puas dengan pandangan Wundt. Aliran ini menekankan bahwa aktivitas mental dapat diwujudkan dalam kesadaran nonsensoris, merupakan awal pemikiran ttg higher mental process. Mind memiliki kategori-kategorinya sendiri, dan mampu membentuk organisasi mental, tidak harus muncul dalam bentuk aktivitas sensoris. Bentuk nyata dari pengorganisasian ini adalah pola-pola dari persepsi.

Pendekatan fenomenologis.

Pendekatan ini memfokuskan pada observasi dan deskripsi detil dari gejala yang muncul, tanpa perlu menjelaskan latar belakang gejala atau menyimpulkan sesuatu dari gejala tersebut. Sehubungan dengan pandangan gestalt, pendekatan fenomenologis dari Edmund Husserl (1859 – 1938) sangat berpengaruh, observasi dan deskripsi detil mengenai aktivitas mental yang dirasakan individu.

Tokoh Gestalt

1. Max Wertheimer (1880-1943)

Belajar pada Kuelpe, seorang tokoh aliran Wuerzburg. Bersama-sama dengan Wolfgang Koehler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1887-1941) melakukan eksperimen yang akhirnya menelurkan ide Gestalt. Tahun 1910 ia mengajar di Univeristy of Frankfurt bersama-sama dnegan Koehler dan Koffka yang saat itu sudah menjadi asisten di sana.

Konsep pentingnya : phi phenomenon (bergeraknya obyek statis menjadi rangkaian gerakan yang dinamis setelah dimunculkan dalam waktu singkat dan dengan demikian memungkinkan manusia melakukan interpretasi).

Dengan konsep ini, Wertheimer menunjuk pada proses interpretasi dari sensasi obyektif yang kita terima. Proses ini terjadi di otak dan sama sekali bukan proses fisik, tetapi proses mental

Dengan pernyataan ini ia menentang pendapat Wundt yang menunjuk pada proses fisik sebagai penjelasan phi phenomenon.

Interaksi antara individu dan lingkungan disebut sebagai perceptual field. Setiap perceptual field memiliki organisasi, yang cenderung dipersepsikan oleh manusia sebagai figure and ground. Oleh karena itu kemampuan persepsi ini merupakan fungsi bawaan manusia, bukan skill yang dipelajari. Pengorganisasian ini mempengaruhi makna yang dibentuk.

Prinsip-prinsip pengorganisasian:

●  Principle of Proximity: Organisasi berdasarkan kedekatan elemen

●  Principle of Similarity: Organisasi berdasarkan kesamaan elemen

●  Principle of Objective Set: Organisasi berdasarkan mental set yang sudah terbentuk

sebelumnya

●  Principle of Continuity: Organisasi berdasarkan kesinambungan pola

●  Principle of Closure/ Principle of Good Form: Organisasi berdasarkan “bentuk yang

sempurna”

●  Principle of Figure and Ground: Organisasi berdasarkan persepsi terhadap bentuk yang

Lebih menonjol dan dianggap sebagai “figure”. Dimensi penting dalam persepsi figur

dan obyek adalah hubungan antara bagian dan figure, bukan karakteristik dari bagian itu

sendiri. Meskipun aspek bagian berubah, asalkan hubungan bagian-figure tetap, persepsi

akan tetap. Contoh : perubahan nada tidak akan merubah persepsi tentang melodi.

●  Principle of Isomorphism: Organisasi berdasarkan konteks.

Proses belajar adalah fenomena kognitif. Apabila individu mengalami proses belajar, terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya. Setelah proses belajar terjadi, seseorang dapat memiliki cara pandang baru terhadap suatu problem.

Insight

Pemecahan masalah secara jitu yang muncul setelah adanya proses pengujian berbagai dugaan/kemungkinan. Setelah adanya pengalaman insight, individu mampu menerapkannya pada problem sejenis tanpa perlu melalui proses trial-error lagi. Konsep insight ini adalah fenomena penting dalam belajar, ditemukan oleh Koehler dalam eksperimen yang sistematis.

Memory

Hasil persepsi terhadap obyek meninggalkan jejak ingatan. Dengan berjalannya waktu, jejak ingatan ini akan berubah pula sejalan dengan prinsip-prinsip organisasional terhadap obyek. Penerapan Prinsip of Good Form seringkali muncul dan terbukti secara eksperimental. Secara sosial, fenomena ini juga menjelaskan pengaruh gosip/rumor.

Pandangan Gestalt cukup luas diakui di Jerman namun tidak lama exist di Jerman karena mulai didesak oleh pengaruh kekuasaan Hitler yang berwawasan sempit mengenai keilmuan. Para tokoh Gestalt banyak yang melarikan diri ke AS dan berusaha mengembangkan idenya di sana. Namun hal ini idak mudah dilakukan karena pada saat itu di AS didominasi oleh pandangan behaviorisme

Akibatnya psikologi gestalt diakui sebagai sebuah aliran psikologi namun pengaruhnya tidak sekuat behaviorisme.

Meskipun demikian, ada beberapa hal yang patut dicatat sebagai implikasi dari aliran Gestalt.

Pendekatan fenomenologis menjadi salah satu pendekatan yang eksis di psikologi dan dengan pendekatan ini para tokoh Gestalt menunjukkan bahwa studi psikologi dapat mempelajari higher mental process, yang selama ini dihindari karena abstrak, namun tetap dapat mempertahankan aspek ilmiah dan empirisnya.

Pandangan Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme dengan menyumbangkan ide untuk menggali proses belajar kognitif, berfokus pada higher mental process. Adanya perceptual field diinterpretasikan menjadi lapangan kognitif dimana proses-proses mental seperti persepsi, insight,dan problem solving beroperasi. Tokoh : Tolman dan Koehler.

2. Kurt Lewin (1890-1947)

Pandangan Gestalt diaplikasikan dalam field psychology dari Kurt Lewin. Lewin adalah salah seorang ahli yang sangat kuat menganjurkan pemahaman tentang lapangan psikologis seseorang.

Lewin lahir di Jerman, lulus Ph.D dari University of Berlin dalam bidang psikologi thn 1914. Ia banyak terlibat dengan pemikir Gestalt, yaitu Wertheimer dan Koehler dan mengambil konsep psychological field juga dari Gestalt. Pada saat Hitler berkuasa Lewin meninggalkan Jerman dan melanjutkan karirnya di Amerika Serikat. Ia menjadi professor di Cornell University dan menjadi Director of the Research Center for Group Dynamics di Massacusetts Institute of Technology (MIT) hingga akhir hayatnya di usia 56 tahun.

Konsep utama Lewin adalah Life Space, yaitu lapangan psikologis tempat individu berada dan bergerak. Lapangan psikologis ini terdiri dari fakta dan obyek psikologis yang bermakna dan menentukan perilaku individu (B=f L). Tugas utama psikologi adlaah meramalkan perilaku individu berdasarkan semua fakta psikologis yang eksis dalam lapangan psikologisnya pada waktu tertentu. Life space terbagi atas bagian-bagian memiliki batas-batas. Batas ini dapat dipahamis ebagai sebuah hambatan individu untuk mencapai tujuannya (lihat fig.11 hal 251). Gerakan individu mencapai tujuan (goal) disebut locomotion.

Dalam lapangan psikologis ini juga terjadi daya (forces) yang menarik dan mendorong individu mendekati dan menjauhi tujuan. Apabila terjadi ketidakseimbangan (disequilibrium), maka terjadi ketegangan (tension). Perilaku individu akan segera tertuju untuk meredakan ketegangan ini dan mengembalikan keseimbangan.

Apabila individu menghadapi suatu obyek, maka bagaimana valensi dari nilai tersebut bagi si individu akan menentukan gerakan individu. Pada umumnnya individu akan mendekati obyek yang

bervalensi positif dan menjauhi obyek yang bervalensi negatif. Dalam usahanya mendekati obyek bervalensi positif, sangat mungkin ada hambatan. Hambatan ini mungkin sekali menjadi obyek yang bervalensi negatif bagi individu. Arah individu mendekati/menjauhi tujuan disebut vektor. Vektor juga memiliki kekuatan dan titik awal berangkat.

Dengan konsep vektor, daya, dan valensi ini Lewin menjelaskan teorinya mengenai tiga jenis konflik (approach-approach, approach-avoidance, dan avoidance-avoidance).

Aplikasi teori Lewin banyak dilakukan dalam konteks dinamika kelompok. Dasar berpikirnya adalah kelompok dianalogikan dengan individu. Maka perilaku kelompok menjadi fungsi dari lingkungan, dimana salah satu faktornya adalah para anggota kelompok dan hubungan interpersonal mereka. Apabila hubungan ini bervalensi negatif, maka perilaku anggota akan menjauhinya dan dengan demikian tujuan kelompok semakin tidak tercapai. Sebaliknya, hubungan yang baik akan membuat anggota saling mendekati sehingga memungkinkan kerjasama yang lebih baik dalam mencapai tujuan kelompok.

Kritik untuk teori Lewin berfokus pada konstruk-konstruknya yang dianggap hipotetis dan sulit dikongkritkan dalam situasi eksperimental. Implikasinya adalah penjelasan Lewin sulit sampai pada level explanatory dan sifatnya deskriptif.

B.Teori Perkembangan kognitif dari Jean Piaget

Riwayat Singkat Jean Piaget (1896 – 1980)

Jean Piaget dilahirkan di Neuchâtel (Switzerland) pada tanggal 9 Agustus 1896. Dia meninggal di Geneva pada tanggal 16 September, 1980. Dia adalah anak tertua dari pasangan suami istri Arthur Piaget, seorang profesor Kesusastraan abad pertengahan dan Rebecca Jackson. Pada usia yang masih dibilang kecil pada saat itu yakni 11 tahun di Neuchâtel Latin high school, dia menulis suatu ulasan tentang albino sparrow. Paper singkat ini mendapat perhatian khusus dari berbagai pihak dan dianggap sebagai permulaan karir ilmiah yang brilian dari seseorang yang telah menulis lebih dari enam puluh buku dan beberapa ratus artikel (Ginn, 2008).

Piaget telah diberi gelar sebagai seorang interaktionis sekaligus sebagai seorang konstruktivis. Ketertarikannya dengan prinsip pengembangan kognisi yang diangkat dari hasil perlakuan melalui training pada ilmu alam dan konsep epistimologi telah mengangkat dirinya menjadi ilmuan sejati. Dia sangat tertarik dengan pengetahuan tentang bagaimana anak-anak hadir untuk mengetahui dunia mereka. Dia mengembangkan teori kognitif dengan betul-betul mengamati perkembangan kognisi anak-anak (beberapa di antara anak tersebut adalah anaknya sendiri). Dengan menggunakan standar pertanyaan sebagai titik awal, dia mencoba mengikuti jalan pikiran anak-anak melalui training dan membuat pertanyaan-pertanyaan yang lebih fleksibel.

Piaget percaya bahwa jawaban dan komentar anak-anak yang sifatnya spontan memberikan tanda untuk memahami jalan pikiran mereka. Dia malah tidak tertarik dengan mengkaji jawaban benar-salah yang diberikan oleh anak-anak, tetapi bentuk-bentuk logika dan alasan yang digunakan dalam memberikan komentar itulah yang menjadi perhatian khusus. Setelah bertahun-tahun melakukan observasi, Piaget menyimpulkan bahwa perkembangan intelektual anak adalah hasil interaksi antara faktor bawaan sejak lahir dengan lingkungan di mana anak-anak itu berkembang. Anak-anak dapat berkembang secara konstan melalui interaksi dengan lingkungan di sekitar mereka sehingga pengetahuan dapat dibangun dan dikonstruksi kembali. Teori Piaget tentang perkembangan intelektual merupakan dasar dalam ilmu biologi. Ginn (2008) mengatakan bahwa Piaget melihat pertumbuhan kognitif sebagai suatu ekstensi dari pertumbuhan biologis dan diolah melalui prinsip-prinsip dan hukum yang sama. Piaget juga memandang bahwa perkembangan intelektual mengontrol setiap perkembangan aspek lain seperti emosi, sosial, dan moral.

Pandangan Jean Piaget tentang Pengembangan Intelektual

Untuk dapat memahami bagaimana pandangan Piaget tentang pengembangan intektual, berikut ini akan dijelaskan dua kategori;

(1) tahapan-tahapan perkembangan intelektual dan

(2) bagaimana cara anak itu belajar mengkonstruksi pengetahuan.

1. Tahapan-tahapan Perkembangan Intelektual

Piaget telah terkenal dengan teorinya mengenai tahapan dalam perkembangan kognisi. Piaget menemukan bahwa anak-anak berpikir dan beralasan secara berbeda pada periode yang berbeda dalam kehidupan mereka. Dia percaya bahwa semua anak secara kualitatif melewati empat tahap perkembangan seperti umur 0 – 2 tahun adalah tahapan pengembangan sensory-motor stage, tahap perkembangan sensori motor, umur 2 sampai 7 tahun adalah tahapan preoperational stage, umur 7 – 11 tahun adalah tahap concrete operation (Marxists, Setiap tahap mempunyai tugas kognitif yang harus diselesaikan. Pada tahap sensori motor, susunan mental anak hanya dapat menerima dan menguasai objek yang kongkrit. Penguasaan terhadap simbol terjagi hingga anak itu berada pada tingkat preoperational. Sedangkan pada tahap konkrit, anak-anak belajar menguasai pengelompokkan, hubungan, angka-angka, dan alasan dari mana semuanya itu diperoleh. Tahap terakhir adalah tahap penguasaan pikiran (Evans, 1973).

<!–
if (window.showTocToggle) { var tocShowText = “tampilkan”; var tocHideText = “sembunyikan”; showTocToggle(); }
// –>
Periode sensorimotor (dari lahir hingga 2 tahun)

Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode.

Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:

Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan

berhubungan terutama dengan refleks.

Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan

dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.

Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan

bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.

Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai

duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu

yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi

objek).

●  Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan

belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai

tujuan.

Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal

kreativitas.

Tahapan Praoperasional ( 2 hingga 7 tahun)

Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra)Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.

Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.

Tahapan Operasional Konkrit ( 7 – 11 Tahun)

Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:

Pengurutan

Yaitu kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.

Klasifikasi

Yaitu kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)

Decentering

Yaitu anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.

Reversibility

Yaitu anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian  8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.

Konservasi

Yaitu memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.

Penghilangan sifat Egosentrisme

Yaitu kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.

Tahap Operasi Formal (12 tahun hingga dewasa)

Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada “gradasi abu-abu” di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.

Keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

● Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu

sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur.

● Universal (tidak terkait budaya)

● Bisa digeneralisasi: representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang

berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan

● Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis

● Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan

sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi)

● Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan

hanya perbedaan kuantitatif

Seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan lingkungan. Dengan berinteraksi tersebut, seseorang akan memperoleh skema. Skema berupa kategori pengetahuan yang membantu dalam menginterpretasi dan memahami dunia. Skema juga menggambarkan tindakan baik secara mental maupun fisik yang terlibat dalam memahami atau mengetahui sesuatu. Sehingga dalam pandangan Piaget, skema mencakup baik kategori pengetahuan maupun proses perolehan pengetahuan tersebut. Seiring dengan pengalamannya mengeksplorasi lingkungan, informasi yang baru didapatnya digunakan untuk memodifikasi, menambah, atau mengganti skema yang sebelumnya ada. Sebagai contoh, seorang anak mungkin memiliki skema tentang sejenis binatang, misalnya dengan burung. Bila pengalaman awal anak berkaitan dengan burung kenari, anak kemungkinan beranggapan bahwa semua burung adalah kecil, berwarna kuning, dan mencicit. Suatu saat, mungkin anak melihat seekor burung unta. Anak akan perlu memodifikasi skema yang ia miliki sebelumnya tentang burung untuk memasukkan jenis burung yang baru ini.

Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya. Dalam contoh di atas, melihat burung kenari dan memberinya label “burung” adalah contoh mengasimilasi binatang itu pada skema burung si anak.

Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali. Dalam contoh di atas, melihat burung unta dan mengubah skemanya tentang burung sebelum memberinya label “burung” adalah contoh mengakomodasi binatang itu pada skema burung si anak.

Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.

2. Bagaimana Anak itu Belajar

Suatu komponen terpenting dalam teori perkembangan intektual Piaget adalah melibatkan partisipasi murid. Artinya bagaimana murid mempelajari sesuatu sekaligus mengalami sesuatu yang dipelajari tersebut melalui lingkungan. Pengetahuan bukan semata-mata berarti memindahkan secara verbal, melainkan harus dikonstruksi dan bahkan direkonstruksi oleh murid. Piaget menyatakan bahwa anak-anak yang ingin mengetahui dan mengkonstruksi pengetahuan tentang objek di dunia, mereka mengalami dan melakukan tindakan tentang objek yang diketahuinya dan mengkonstruksi objek itu berdasarkan pemahaman mereka. Karena pengertian mereka terhadap objek itu dapat mengatur realitas dan tindakan mereka. Murid harus aktif, dalam pengertian bahwa murid bukanlah suatu bejana yang harus diisi penuh dengan fakta. Pendekatan belajar Piaget merupakan pendekatan kesiapan. Pendekatan kesiapan dalam psikologi perkembangan menekankan bahwa anak-anak tidak dapat belajar sesuatu sampai kematangan memberikan kepada mereka prasyarat-prasyarat.

Kemampuan untuk mempelajari konten kognisi selalu berhubungan dengan tahapan dalam perkembangan intelektual mereka. Dengan demikian, anak yang berada pada tahapan dan kelompok umur tertentu tidak dapat diajarkan materi pelajaran yang lebih tinggi dari pada kemampuan umur anak itu sendiri. Pertumbuhan intelektual melibatkan tiga proses fundamental; asimilasi, akomodasi, dan aquilibrasi (penyeimbangan). Asimilasi melibatkan penggabungan pengetahuan baru dengan struktur pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. Akomodasi berarti perubahan struktur pengetahuan yang sudah ada sebelumnya untuk mengakomodasi hadirnya informasi baru. Penyatuan dua proses asimilasi dan akomodasi inilah yang membuat anak dapat membentuk schema. Seperti yang dipahami dalam teori schema, istilah schema (tunggal) merujuk pada representasi pengetahuan umum. Sedangkan jamaknya schemata tertanam dalam suatu komponen atau ciri ke komponen lain pada tingkat abstraksi yang berbeda. Hubungannya lebih mendekati kemiripan dalam web dari pada hubungan hirarki. Artinya, setiap satu komponen dihubungkan dengan komponen-komponen lain (SIL International, 1999).

Lebih jauh, yang dimaksud dengan equilibration adalah keseimbangan antara pribadi seseorang dengan lingkungannya atau antara asimilasi dan akomodasi. Ketika seorang anak melakukan pengalaman baru, ketidakseimbangan hampir mengiringi anak itu sampai dia mampu melakukan asimilasi atau akomodasi terhadap informasi baru yang pada akhirnya mampu mencapai keseimbangan (equilibrium). Ada beberapa macam equilibrium antara asimilasi dan akomodasi yang berbeda menurut tingkat perkembangan dan perbagai persoalan yang diselesaikan. Bagi Piaget, equilibrasi adalah faktor utama dalam menjelaskan mengapa beberapa anak inteligensi logisnya berkembang lebih cepat dari pada anak yang lainnya.

Implikasi Pandangan Piaget dalam Pendidikan

Jika ada kurikulum yang menekankan pada filosofi pendidikan yang berorientasi pada pemelajar (murid) sebagai pusat, learner-centered, maka model kurikulum seperti itulah yang diinspirasi dari pandangan Piaget. Sedangkan, beberapa metode pengajaran yang diterapkan pada kebanyakan sekolah di Amerika waktu itu seperti metode ceramah, demonstrasi, presentasi audi-visual, pengajaran dengan menggunakan mesin dan peralatan, pembelajaran terprogram, bukanlah merupakan metode yang dikembangkan oleh Piaget. Piaget mengembangkan model pembelajaran discovery yang aktif dalam lingkungan kelas. Inteligensi tumbuh dan berkembang melalui dua proses asimilasi dan akomodasi. Dengan demikian, pengalaman harus direncanakan untuk membuka kesempatan untuk melakukan asimilasi dan akomodasi.

Anak-anak harus diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk untuk mencari, memanipulasi, melakukan percobaan, bertanya, dan mencari jawaban sendiri terhadap berbagai pertanyaan yang muncul. Namun demikian, bukan berarti pemelajar dapat melakukan apa saja yang mereka inginkan. Kalau demikian halnya, apa peranan guru dalam ruangan kelas? Guru seharusnya mampu mengukur kemampuan, kelebihan, dan kekurangan yang dimiliki siswa. Pembelajaran harus dirancang untuk menfasilitasi keberbedaan siswa dan dapat memberikan kesempatan yang luas untuk membangun komunikasi antara siswa yang satu dengan yang lainnya, untuk berdebat, dan saling menyanggah terhadap isu-isu aktual yang diberikan kepada siswa. Keberadaan guru harus mampu menjadi fasilitator pengetahuan, mampu memberikan semangat belajar, membina, dan mengarahkan siswa.

Seharusnya tidak menekankan kepada benar-salah, melainkan bagaimana menfasilitasi siswa agar dapat mengambil pelajaran dari kesalahan yang diperbuat. Pembelajaran harus lebih bermakna dengan memberi peluang kepada siswa untuk melakukan percobaan sendiri dari pada harus mendengarkan lebih banyak dari hasil ceramah dari guru. Guru harus mampu menghadirkan materi pelajaran yang membawa murid kepada suatu kesadaran untuk mencari pengetahuan baru. Dalam bukunya yang berjudul To Understand Is to Invent, Piaget mengatakan bahwa prinsip dasar dari metode aktif dapat dijelaskan sebagai berikut: Untuk memahami harus menemukan atau merekonstruksi melalui penemuan kembali dan kondisi seperti ini harus diikuti jika menginginkan seseorang dibentuk guna mampu memproduksi dan mengembangkan kreativitas dan bukan hanya sekedar mengulangi. Dalam pembelajaran aktif, guru harus memiliki keyakinan bahwa siswa akan mampu belajar sendiri.

Konsep Pembelajaran Kognitif

Pengembangan konsep pembelajaran kognitif sudah tentu sangat dipengaruhi oleh aliran psikologi kognitif. Terdapat tiga tokoh penting di dalamnya yaitu: Piaget, Bruner dan Ausuble.

Tiga prinsip utama pembelajaran yang dikemukakan Piaget, antara lain:

  1. Belajar aktif

Proses pembelajaran adalah proses aktif, karena pengetahuan terbentuk dari dalam subyek belajar. Untuk membantu perkembangan kognitif anak, kepadanya perlu diciptakan suatu kondisi belajar yang memungkinkan anak belajar sendiri, misalnya: melakukan percobaan sendiri; memanipulasi symbol-simbol; mengajukan pertanyaan dan mencari jawabannya sendiri; membandingkan penemuan sendiri dengan penemuan temannya.

  1. Belajar lewat interaksi social

Dalam belajar perlu diciptakan suasana yang memungkinkan terjadinya interaksi di antara subyek belajar. Menurut Piaget belajar bersama baik dengan teman sebaya maupun orang yang lebih dewasa akan membantu perkembangan kognitif mereka. Karena tanpa kebersamaan kognitif akan berkembang dengan sifat egosentrisnya. Dan dengan kebersamaan khasanah kognitif anak akan semakin beragam. Hal ini memperkuat pendapat dari JL. Mursel

  1. Belajar lewat pengalaman sendiri

Dengan menggunakan pengalaman nyata maka perkembangan kognitif seseorang akan lebih baik daripada hanya menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Berbahasa sangat penting untuk berkomunikasi namun jika tidak diikuti oleh penerapan dan pengalaman maka perkembangan kognitif seseorang akan cenderung mengarah ke verbalisme.

Perkembangan Anak Menurut Jean Piaget dan Vigotsky

The National for the Educational of Young Children (NAEYC) mendefinisikan pendidikan anak usia dini adalah pendidikan yang melayani anak usia lahir hingga 8 tahun untuk kegiatan setengah hari maupun penuh baik di rumah ataupun institusi luar. Asosiasi para pendidik yang berpusat diAmerika tersebut mendefinisikan rentang usia berdasarkan perkembangan hasil penelitian di bidang psikologi perkembangan anak yang mengindikasikan bahwa terdapat pola umum yang dapat diprediksi menyangkut perkembangan yang terjadi selama 8 tahun pertama kehidupan anak. NAEYC juga berperan sebagai lembaga yang memberikan panduan dalam menjaga mutu program pendidikan anak usia dini yang berkualitas yaitu program yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan keunikan individu.Pembagian rentang usia berdasarkan keunikan dalam tingkat pertumbuhan dan perkembangannya di Indonesia, tercantum dalam buku kurikulum dan hasil belajar anak usia dini yang terbagi ke dalam rentang tahapan berikut: (1) Masa bayi berusia lahir – 12 bulan; (2) Masa “toddler” atau balita usia 1-3 tahun; (3) Masa prasekolah usia 3-6 tahun; (4) Masa kelas B TK usia 4-5/6 tahun

Teori perkembangan Piaget dengan konsep kecerdasan seperti halnya sistem biologi membangun struktur untuk berfungsi, pertumbuhan kecerdasan ini dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan sosial, kematangan dan ekuilibrasi. Semua organisme dilahirkan dengan kecenderungan untuk beradaptasi (menyesuaikan diri) dengan lingkungannya. Cara beradaptasi berbeda bagi setiap individu, begitu juga proses dari tahap yang satu ke tahap yang lain dalam satu individu. Adaptasi terjadi dalam proses asimilasi dan akomodasi. Kita merespon dunia dengan menghubungkan pengalaman yang diterima dengan pengalaman masa lalu kita (asimilasi), sedangkan setiap pengalaman itu berisi aspek yang mungkin saja baru sama sekali. Aspek yang baru inilah yang menyebabkan terjadinya dalam struktur kognitif (akomodasi).Asimilasi adalah proses merespon pada lingkungan yang sesuai dengan struktur kognitif seseorang. Tetapi proses pertumbuhan intelektual tidak akan ada apabila pengalaman yang ditangkap tidak berbeda dengan skemata yang ada oleh sebab itu diperlukan proses akomodasi, yaitu proses yang merubah struktur kognitif. Bagi Piaget proses akomodasi tersebut dapat disamakan dengan belajar. Konsep ini mejelaskan tentang perlunya guru memilih dan menyesuaikan materi berpijak dari ide dasar yang diketahui anak, untuk kemudian dikembangkan dengan stimulasi lebih luas misalnyadalam bentuk

pertanyaan sehingga kemampuan anak meningkat dalam menghadapi pengalaman yang lebih kompleks.

Piaget selain meneliti tentang proses berpikir di dalam diri seseorang ia juga dikenal dengan konsep bahwa pembangunan struktur berfikir melalui beberapa tahapan. Piaget membagi tahap perkembangan kognitif anak menjadi empat tahap: (1) Tahap sensori motor (lahir-2 tahun); (2) Tahap praoperasi (usia 2-7 tahun); (3) Tahap operasi konkrit (usia 7-11 tahun); (4) Tahap operasi formal (usia 11-15 tahun). Tahapan-tahapan ini sudah baku dan saling berkaitan. Urutan tahapan Tidak dapat ditukar atau dibalik karena tahap sesudahnya melandasi Terbentuknya tahap sebelumnya. Akan tetapi terbentuknya tahap tersebut dapat berubah-ubah menurut situasi sesorang. Perbedaaan antara tahap sangat besar. Karena ada perbedaan kualitas pemikiran yang lain. Meskipun demikian unsur dari perkembangan sebelumnya tetap tidak dibuang. Jadi ada kesinambungan dari tahap ke tahap, walaupun ada juga perbedaan yang sangat mencolok.

Vigotsky memandang bahwa sistem sosial sangat penting dalam perkembangan kognitif anak. Orangtua, guru dan teman berinteraksi dengan anak dan berkolaborasi untuk mengembangkan suatu pengertian. Jadi belajar terjadi dalam konteks sosial, dan muncul suatu istilah zona Perkembangan Proksimal (ZPD). ZPD diartikan sebagai daerah potensial seorang anak untuk belajar, atau suatu tahap dimana kemampuan anak dapat ditingkatkan dengan bantuan orang yang lebih ahli. Daerah ini merupakan jarak antara tahap perkembanan aktual anak yaitu ditandai dengan kemampuan mengatasi permasalahan sendiri batas tahap perkembangan potensial dimana kemampuan pemecahan masalah harus melalui bantuan orang lain yang mampu.Sebagi contoh anak usia 5 tahun belajar menggambar dengan bantuan pengarahan dari Orang tua atau guru bagimana caranya secara bertahap, sedikit demi sedikit bantuan akan berkurang sampai ZPD berubah menjadi tahap perkembangan aktual saat anak dapat menggambar sendiri. Oleh karena itu dalam mengembangkan setiap kemampuan anak diperlukan scaffolding atau bantuan arahan agar anak pada akhirnya menguasai keterampilan tersebut secara independen. Dalam mengajar guru perlu menjadi mediator atau fasilitator di mana pendidik berada disana ketika anak-anak membutuhkan bantuan mereka. Mediatoring ini merupakan bagian dari scaffolding. Jadi walaupun anak sebagai pebelajar yang aktif dan ingin tahu hampir segala hal, tetapi dengan bantuan yang tepat untuk belajar lebih banyak perlu terus distimuluasi sehingga proses belajar menjadi lebih efektif.

Vigotsky meyakini bahwa pikiran anak berkembang melalui:

(1) Mengambil bagian dalam dialog yang kooperatif dengan lawan yang terampil dalam

tugas di  luar zone proximal Development;

(2) Menggunakan apa yang dikatakan pendidik yang ahli dengan apa Yang dilakukan. Berbeda dengan Piaget yang memfokuskan pada perkembangan berfikir dalam diri anak (intrinsik), Vigotsky menekankan bahwa perkembangan kognitif seorang anak sangat dipengaruhi oleh sosial dan budaya anak tersebut tinggal. Setiap budaya memberikan pengaruh pada pembentukan keyakinan, nilai, norma kesopanan serta metode dalam memecahkan masalah sebagai alat dalam beradaptasi secara intelektual. Budayalah yang mengajari anak untuk berfikir dan apa yang seharusnya dilakukan.

C. Sumber

Vicky (Pengarang Arie Asnaldi).2008.Teori belajar gestalt. http://209.85.175.132/search?q=cache: 102jTs26-agJ:id.shvoong.com/social sciences/ psychology/1854950-teori-belajar-gestalt /+teori+belajar+bermakna&hl=id &ct=clnk&cd=20&gl=id&client=firefox-a

Prawitasari, Nila.2008. Pendidikan Dasar. http://blessing.890m.com/index.html

——————    2008. Pendidikan Dasar http://209.85.175.132/search?q=cache:F2oIUNWPJd0J:

blessing.890m.com/gestalt.html+Aliran+Psikologi+Gestalt&hl=id&ct=clnk&cd=8&gl=id&client=firefox-a

Hutagalung, S.Th, Marada. 2008. Belajar Psikologi Gestalt dan implikasinya di dalam belajar dan pembelajaranhttp://209.85.175.132/search?q=cache:Bz0N_euCCq8J:maradagv.multiply com/journal/item/32+Aliran+Psikologi+Gestalt&hl=id&ct=clnk&cd=3&gl=id&client=firefox-a

lutfizulfi. 2008. Teori Belajar Gestalt. http://209.85.175.132/search?q=cache:K3PINhXTolsJ: lutfizulf.wordpress.com/2008/09/27/teori-belajar-gestalt/+Aliran+Psikologi+Gestalt&hl=id &ct=clnk&cd=5&gl=id&client=firefox-a

.Hana Panggabean, DR. phil. Gestalt. http://209.85.175.132/search?q=cache:4a8I99furIJ:rumah belajar psikologi.com/index.php/gestalt.html+Aliran+Psikologi+Gestalt&hl=id&ct=clnk &cd=1 &gl=id&client=firefox-a

MyNiceSpace.com.2007. Pertumbuhan Dan Perkembangan Kognitif Manusia Daripada Perspektif Teori Piaget. http://72.14.235.132/search?q=cache:iHFGQ8LzvLgJ:teoripiaget. blogspot.com/+PERKEMBANGAN+KOGNITIF+JEAN+PIAGET&hl=id&ct=clnk&cd=5&gl=id&client=firefox-a

Wikipedia.2009. Teori perkembangan kognitif http://72.14.235.132/search?q=cache:FU-UYXuF8 yAJ:id.wikipedia.org/wiki/Teori_perkembangan_kognitif+PERKEMBANGAN+KOGNITIF+JEAN+PIAGET&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id&client=firefox-a

Fatimah, Eva.2008. Perkembangan Anak Menurut Jean Piaget dan Vigotskyhttp://72.14.235.132 /search?q=cache:Ztscp7Hch0cJ:pembelajaranguru.wordpress.com/2008/05/25/perkembangan-anak-menurut-jean-piaget-dan vigotsky/+PERKEMBANGAN+KOGNITIF+JEAN +PIAGET&hl=id&ct=clnk&cd=3&gl=id&client=firefox-a

TOLETS82. 2008. Pembelajaran Yang Berpihak Pada Praktik Belajr Kognitifhttp://72.14.235. 132/search?q=cache:lL74xqvH6gUJ:one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/tugas-kuliah-lainnya/pembelajaran-yang-berpihak-pada-praktik-belajar-kognitif+PERKEMBANGAN+KOGNITIF+JEAN+PIAGET&hl=id&ct=clnk&cd=29&gl=id&client=firefox-a

Yaumi,Muhammad. 2008.Jean Piaget,Pandangan, dan  Implikasinya dalam Pendidikan.http://72. 14.235.132/search?q=cache:LKNvth4mtHIJ:re-searchengines.com/muhammad1108.html+PERKEMBANGAN+KOGNITIF+DARI+JEAN+PIAGET&hl=id&ct=clnk&cd=3&gl=id&client=firefox-a


0 Responses to “TUGAS 3: GESTALT & PIAGET”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: