24
Mei
09

TUGAS 2: BAB 3. LANDASAN FILSAFAT

LANDASAN FILSAFAT PENDIDIKAN

Manusia sejak mereka ada di muka bumi dan hidup bermasyarakat  sudah memiliki gambaran dan cita-cita yang mereka kejar dalam hidupnya, baik secara individu maupun secara berkelompok, walaupun masih sangat sederhana. Gambaran dan cita-cita  tentang kehidupan  itu pula yang mendasari adat istiadat suatu suku atau bangsa, norma, dan hukum  yang berlaku dalam masyarakat. Begitupula pendidikan yang berlangsung disuatu suku atau bangsa tidak bisa terlepas dari gambaran dan cita-cita di atas.

A. Filsafat, Ilmu, dan Ilmu Pendidikan

Filsafat

Filsafat dalam arti sekarang mulai dikenal sejak zamn Yunani kuno. Ahli filsafat waktu itu adalah:

1. Socrates (469-399 SM) mengajarkan bahwa manusia harus mencari kebenaran dan kebijakan dengan

cara berpikir secara dialektis.

2. Plato (427-347 SM) mengatakan kebenaran hanya ada di alam ide yang bisa diselami oleh akal.

pemikiran dan perenungan secara mendalam tentang sesuatu sampai keakar-akarnya.

Dalam garis besarnya ada empat cabang filsafat yaitu :

1. Metafisika ialah filsafat yang meninjau tentang hakikat segala sesuatu yang terdapat di alam ini.

2. Epistemologi ialah filsafat yang membahas tentang pengetahuan dan kebenaran dengan rincian:

a. Ada lima unsur pengetahuan :

1) Otoritas yang terdapat dalam ensiklopedi, buku teks yang baik, rumus dan tabel

2) Common Sense yang ada pada adat dan tradisi

3) Intuisi yang berkaitan dengan perasasaan

4) Pikiran untuk menyimpulkan hasil pengalaman.

5) Pengalaman yang terkontrol untuk mendapatkan pengetahuan secara ilmiah.

b) Ada empat teori kebenaran yaitu:

1) Koheren, sesuatu akan benar bila ia konsisten dengan kebenaran umum.

2) koresponden, sesuatu akan benar bila ia tepat dengan fakta yang dijelaskan.

3)Fragmatisme, sesuatu dipandang benar bila kebenaran yang lengkap konskuensinya memberi

manfaat bagi kehidupan.

4) Skeptivisme, kebenaran dicari secara ilmiah dan tidak ada.

3. Logika ialah filsafat yang membahas tentang cara manusia berpikir dengan benar.

4. Etika ialah filsafat yang menguraikan tentang perilaku manusia. Filsafat etika sangat besar

mempengaruhi pendidikan sebab tujuan pendidikan untuk mengembangkan perilaku manusia, antara

lain afeksi peserta didik.

Ilmu

Ketika Ilmu baru muncul, baru terlepas dari flsafat sebagai induknya, ilmu masih mempunyai pertautan dengan filsafat. Pada taraf ini ilmu masih menggunakan norma-norma filsafat. Ilmu mengungkapkan penemuan-penemuannya hanya berdasarkan apa adanya di lapangan.

Jujun (9181) dalam bukunya membagi proses perkembangan ilmu menjadi dua bagian yang saling berkaitan satu dengan yang lai. Tingkat proses perkembangan  yang dimaksud adalah :

1. Tingkat Empiris ialah ilmu yang baru ditemukan di lapangan. Ilmu yang masih berdiri sendiri-sendiri,

baru sedikit bertautan dengan penemuan lain yang sejenis. Wujud ilmunya belum utuh, masing-masing

sesuai dengan misi penemuannya karena belum lengkap.

2. Tingkat penjelasan atau teoretis, ialah ilmu yang sudah mengembengkan suatu struktur teoritis. Dengan

struktur ini mengintegrasikan ilmu-ilmu empiris itu menjadi suatu pola yang berarti.

Ilmu Pendidikan

Pendidikan adalah merupakan salah satu bidang ilmu. Pendidikan pun lahir dari induknya yaitu filsafat. Pada zaman nasionalisme pendidikan sebagai ilmu mulai muncul. Zaman ini dikatakan sebagai kebangkitan ilmu pendidikan, sebab komponen-komponen ilmu mulai lengkap..

Dalam perkembangan  selanjutnya terjadi perebutan pengaruh dalam dunia pendidikan yaitu antara pembawaan dan lingkungan. Schopenhauer berpendapat bahwa anak manusia sudah dibekali segala sesuatu sejak dilahirkan, aliran ini disebut Nativisme. Aliran ini bertentangan dengan aliran Empirisme yang berpendapat bahwa lingkunganlh yng memegang peranan dalam menentukan maju mundurnya hidup dan kehidupan manusia. Tokohnya ialah Jhon locke yang terkenal dengan teori tabularas. Tabularasa adalah meja yang dilapisi lilin tempat menulis orang-orang Yunani kuno. Pendamai kedua teori itu adalah William Stern yang kemudian diikuti oleh Woodworth dan Marquis , yang menciptakan teori Konvergensi. Teori ini memandang kekuasaan pembawaan dan lingkungan adalah sama dalam perkembangan manusia.Ketiga teori ini masih mewarnai teori-teori pendidikan pada zaman modern.

B. Filsafat Pendidikan

Filsafat Pendidikan ialah hasil pemikiran  dan perenungan secara mendalam sampai keakar-akarnya mengenai pendidikan.

Tulisan Zanti Arbi (1988) yang menceritakan tentang maksud filsafat pendidikan sebgai berikut:

1. Menginspirasikan

adalah memberi inspirasi kepad pr pendidik untuk melaksanakan ide tertentu dalam pendidikan.

2. Menganalisis

adalah memeriksa secara teliti bagian-bagian pendidikan agar dapat diketahui secara jelas validitasnya

3.Mempreskriptipkan

adalah upaya menjelaskan atau memberi pengarahan kepada pendidik  melalui filsafat pendidikan

4. Menginvestigasi

adalah untuk memeriksa atau meneliti kebenaran suatu teori pendidikan.

Beberap aliran filsafat pendidikan yang dominan di dunia ini adalah:

1. Esensialis

Filsafat pendidikan esensial bertitik tolak dari kebenaran yang telah terbukti berabad-abad

lamanya.Tekanan pendidikannya adalah pada pembentukan intelektual dan logika.. pengaruh filsafat

ini sangat kuat sampai sekarang. Sekolah-sekolah dengan kurikulum dan metode tradisionalnya

merupakan perwujudan filsafat pendidikan ini.Tokohnya antara lain adalah Brameld

2. Perenialis

  1. Perenialis tidak jauh berbeda dengan esensial. Kalau kebenaran yang esensial ada pada  kebudayaan

klasik dengan Great booknya. Maka kebenaran Perenialis ada pada wahyu tuhan. Proses pendidikan

mereka sama-sama bersifat tradisional. Filsafat ini muncul abad pertengahan pada zaman keemasan

agama katholik-Kristen. Ajaran agama itulah merupakan suatu kebenaran yang patut dipelajari dan

  1. Tokoh Filsafat ini adalah Agustinus dan Thomas Aquino.

3.Progresivis

Lahir di Amerika Serikat.. Progresivis mempunyai jiwa perubahan relativitas, kebenaran dinamik, i

lmiah, dan perbuatan nyata.Tidak ada tujuan yang pasti, begitu pula tidak ada kebenaran yang pasti.

4. Rekonstruksionis!

Merupakan variasi dari progresivisme, yang menginginkan kondisi manusia pada umumnya harus

diperbaiki(Callahan, 1983).. Aliran yang ekstrim ini berupaya merombak tata susunan masyarakat lama

dan membangun tata susunan hidup yang baru sama sekali melalui lembaga dan proses pendidikan.

5. Eksistensialis

Berpendapat bahwa kenyataan atau kebenaran adalah eksitensi atau adanya individu

  1. manusia itu sendiri. Manusia adalah bebas, akan menjadi apa orang itu ditentukan oleh keputusan dan

komitmennya sendiri. (Callahan, 1983). Kebenaran menurut mereka adalah relative bergantung kepada

keputusan mereka masing-masing.

C. Filsafat Pendidikan di Indonesia

Bangsa Indonesia memiliki filsafat umum atau filsafat negara adalah Pancasila. Sebagai filsafat negara, Pancasila patut menjadi jiwa bangsa Indonesia, menjadi semangat dalam berkarya dalam segala bidang, dan mewarnai segala segi kehidupan dari hari kehari.

Namun, belum ada upaya untuk mengoperasionalkan Pancasila agar mudah diterapkan dalam kegiatan-kegiatan masyarakat. Sementar itu pendidikan di Indonesia belum mempunyai konsep atau teori-teori sendiri yang cocok dengan kondisi, kebiasaan atau budaya Indonesia tentang pengertian pendidikan dan cara-cara mencapai tujuan pendidikan. Sebagian konsep atau teori pendidikan diimpor dari luar negeri sehingga belum tentu valid untuk diterapkan di Indonesia.

D. Upaya mewujudkan Filsafat pendidikan di Indonesia

Untuk dapat membentuk teori pendidikan di Indonesia yang valid, terlebih dahulu dibutuhkan filsafat pendidikan yang bercorak Indonesia yang memadai tentang pengertian pendidikan yang jelas dan berlaku di seluruh tanah air, tujuan pendidikannya, model pendidikannya, dan cara mencapai tujuan yaitu dari tehnik mendidik.

Upaya mendorong pemerintah untuk memberi isyarat akan pentingnya merumuskan filsafat pendidikan dan teori pendidikan yang bercorak Indonesia sudah pernah dilakukan menjelang siding umum MPR (Kompas, 27 Nopember 1992), sebagai suatu sumbangan untuk bahan siding umum itu. Namun GBHN 1993 sebagi produk siding itu tidak mencantumkan perlunya perumusan filsafat dan teori pendidikan itu.

Nama                   : Lela Anggraini

NIM           : 20082012003

Program studi Pendidikan Matematika

Program Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya


0 Responses to “TUGAS 2: BAB 3. LANDASAN FILSAFAT”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: